MAKASSAR, MENITNEWS.COM– Tren kesehatan digital kian pesat, mendorong banyak produsen smartwatch membekali perangkat mereka dengan fitur pelacak tidur (sleep tracking). Fitur ini diklaim mampu memantau kualitas istirahat pengguna secara komprehensif, mulai dari durasi, gerakan tubuh, detak jantung, hingga pola pernapasan.
Namun, muncul pertanyaan krusial: Seberapa akurat hasil pengukuran tersebut? Apakah data yang dihasilkan benar-benar dapat diandalkan layaknya alat medis profesional, ataukah sekadar estimasi berbasis algoritma dengan keterbatasan bawaan?
Perangkat Populer dan Pendekatan Berbeda
Fitur pemantauan tidur kini telah menjadi bagian standar dari ekosistem kesehatan digital pada banyak perangkat populer.
- Contoh Perangkat: Apple Watch Series, Samsung Galaxy Watch, Fitbit, Garmin, Xiaomi Smart Band, hingga Oura Ring.
- Integrasi: Perangkat seperti Apple dan Samsung mengintegrasikan data sleep tracking dengan platform kesehatan bawaan mereka (Apple Health dan Samsung Health).
- Analisis Mendalam: Sementara itu, Fitbit dan Garmin seringkali menawarkan analisis lebih rinci, termasuk skor tidur (sleep score), pemantauan pola pernapasan, dan deteksi potensi gangguan tidur ringan.
Secara umum, perangkat pelacak tidur terbagi menjadi dua kategori utama:
- Wearable trackers: Perangkat yang dipakai langsung di tubuh (seperti jam tangan, gelang, atau cincin pintar).
- Nearable trackers: Perangkat yang ditempatkan di dekat tempat tidur (misalnya di bawah kasur atau di meja samping).
Cara Kerja Sensor Pelacak Tidur
Menurut Dr. Brian Chen, spesialis kedokteran tidur dari Cleveland Clinic, fitur sleep tracking tidak mengukur tidur secara langsung, melainkan memperkirakan aktivitas tubuh melalui serangkaian sensor:
| Sensor | Fungsi Utama |
| Akselerometer | Mendeteksi gerakan tubuh. Jika tubuh tidak bergerak dalam waktu lama, perangkat menganggap pengguna sedang tidur. |
| PPG (Photoplethysmography) | Memantau detak jantung dan variasi detak jantung (Heart Rate Variability/HRV) selama tidur. |
| SpO2 (Oksigen Darah) | Melihat kestabilan kadar oksigen dalam darah, yang mengindikasikan pola pernapasan. |
| Sensor Tambahan | Sensor suhu dan mikrofon (untuk mendeteksi perubahan suhu tubuh atau suara seperti dengkuran). |
Dari kombinasi data ini, algoritma perangkat akan memperkirakan waktu mulai tidur, durasi total, frekuensi terbangun, serta tahapan tidur (light sleep, deep sleep, dan REM).
Efektivitas: Akurat pada Durasi, Kurang Presisi pada Tahapan Tidur
Laman Cleveland Clinic menyimpulkan bahwa pelacak tidur pada smartwatch paling akurat dalam membedakan antara kondisi terjaga dan tertidur.
Namun, akurasinya belum sepenuhnya presisi dalam menentukan tahapan tidur (light, deep, dan REM).
Pernyataan Ahli: “Untuk hasil yang benar-benar akurat, seseorang perlu menjalani uji tidur medis (Polysomnography) di laboratorium tidur,” jelas Dr. Chen, dikutip dari Kompas.com. Tes medis menggunakan sensor elektroda yang merekam aktivitas otak dan gelombang otot, sesuatu yang belum dapat ditiru oleh perangkat konsumen seperti smartwatch.
Beberapa perangkat juga diketahui cenderung melebih-lebihkan durasi tidur nyenyak (deep sleep) karena algoritma kesulitan mendeteksi fase tidur ringan atau saat pengguna terbangun tanpa banyak bergerak.
Kesimpulan: Alat Bantu Reflektif, Bukan Diagnostik Medis
Meskipun bukan alat diagnostik medis, pelacak tidur pada smartwatch tetap memiliki nilai praktis yang tinggi:
- Mengenali Pola: Data perangkat membantu pengguna mengenali pola tidur pribadi, seperti jam tidur ideal, dan pengaruh faktor eksternal (kafein, stres, suhu ruangan) terhadap kualitas istirahat.
- Meningkatkan Kualitas: Perangkat dapat menjadi sarana efektif untuk memahami kebiasaan tidur dan mendorong peningkatan kualitas istirahat.
Pesan Penting: Data yang dihasilkan sebaiknya digunakan sebagai panduan reflektif, bukan acuan medis absolut. Jika hasil pelacakan menunjukkan pola yang tidak wajar atau mengkhawatirkan (misalnya sering terbangun, durasi tidur sangat singkat), disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.
Comment