Fenomena Cancel Culture: Definisi, Dampak, dan Cara Menyikapinya

Foto Ilustrasi

ads
ads

MENITNEWS.COM– Cancel culture adalah praktik sosial di mana seseorang atau sekelompok orang diboikot dan ditarik dukungannya karena ucapan atau tindakan yang dianggap salah.

Fenomena ini kerap terjadi di media sosial dan dapat menimpa siapa saja, mulai dari publik figur, politisi, hingga pemuka agama. Prosesnya berlangsung sangat cepat dan tidak hanya menghancurkan reputasi, tetapi juga menyerang kondisi psikologis korban.

Namun, dampaknya tidak berhenti pada korban saja. Pelaku (netizen yang memboikot) dan pengamat juga berisiko mengalami tekanan mental jika fenomena ini tidak disikapi dengan bijak.


1. Akar Sejarah dan Transformasi Digital

Meskipun istilah cancel culture baru populer belakangan ini, praktik serupa seperti boikot ekonomi dan pengucilan sosial sebenarnya sudah ada sejak lama.

Perbedaannya terletak pada mediumnya:

  • Dahulu: Proses pengucilan berjalan lebih lambat dan terlokalisasi.

  • Era Digital: Penyebaran terjadi sangat cepat, masif, dan sering kali tanpa melalui proses hukum yang jelas (trial by internet). Tuntutannya bisa berupa boikot produk hingga desakan agar seseorang dipecat.


2. Dampak Serius pada Kesehatan Mental

Cancel culture menciptakan lingkaran setan yang memengaruhi psikologis tiga pihak sekaligus:

A. Bagi Korban Tekanan sosial yang masif dapat memicu:

  • Stres dan Kecemasan: Akibat serangan verbal bertubi-tubi.

  • Depresi: Muncul karena isolasi sosial dan hancurnya harga diri.

  • Gangguan Tidur: Rasa takut berlebihan memicu insomnia.

  • Penurunan Produktivitas: Hilangnya motivasi untuk kembali aktif secara profesional.

B. Bagi Pelaku Mereka yang aktif melakukan cancel berisiko:

  • Mengalami peningkatan emosi negatif (marah dan frustrasi) jika target tidak “berubah”.

  • Kehilangan empati karena terlalu fokus pada penghukuman.

C. Bagi Pengamat Netizen yang hanya menyimak pun bisa terdampak:

  • Muncul rasa tidak aman (insecurity) dan cemas.

  • Ketakutan berlebih akan menjadi target berikutnya.


3. Dua Sisi Dampak Sosial

Fenomena ini ibarat dua sisi mata uang yang memiliki dampak negatif sekaligus positif bagi masyarakat:

Dampak Negatif:

  • Iklim Ketakutan: Orang menjadi enggan berpendapat karena takut salah bicara.

  • Menghambat Diskusi: Toleransi sosial menurun karena perbedaan pendapat langsung dihukum dengan boikot.

Dampak Positif:

  • Akuntabilitas: Menyadarkan publik figur bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi.

  • Kesadaran Sosial: Mengangkat isu-isu krusial seperti seksisme, rasisme, dan diskriminasi.

  • Perubahan Etis: Tekanan publik dapat mendorong perubahan kebijakan perusahaan atau perilaku individu menjadi lebih baik.


4. Langkah Bijak Menghadapi Cancel Culture

Agar tidak terjebak dalam arus negatif fenomena ini, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:

Tips Utama: “Pikirkan ulang sebelum memposting. Hindari menyebarkan konten saat emosi sedang tinggi.”

Untuk Menjaga Diri dan Lingkungan:

  1. Verifikasi Fakta: Jangan ikut menghujat atau menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya.

  2. Kembangkan Empati: Sampaikan kritik secara proporsional, bukan serangan yang menghancurkan emosi.

  3. Detoks Media Sosial: Jika linimasa terasa terlalu bising dan membuat cemas, istirahatlah sejenak.

  4. Fokus pada Perbaikan: Jika Anda yang melakukan kesalahan, jadikan ini pembelajaran dan hindari konflik destruktif.

  5. Cari Dukungan: Jangan ragu bercerita kepada orang terpercaya atau tenaga profesional jika tekanan mental terasa berat.

Comment