Mengapa Yamaha RX-King Jadi “Harta Karun”? Menguak Daya Pikat Sang Raja Jalanan yang Bikin Kolektor Rela Rogoh Kocek Ratusan Juta

Foto Ilustrasi (Foto: rxkingsemarang)

ads
ads

MENITNEWS.COM– Yamaha RX-King kembali menjadi perbincangan hangat, terutama setelah kabar duka mengenai seorang publik figur yang meninggal dunia akibat kecelakaan saat mengendarai motor legendaris ini.

Julukan “Raja Jalanan” memang tak lekang oleh waktu. Motor 2-tak ikonik yang produksinya sudah dihentikan sejak 2009 ini, alih-alih menjadi rongsokan besi tua, justru bermetamorfosis menjadi “harta karun” dengan nilai jual fantastis, mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Lantas, apa rahasia di balik pesona motor yang dikenal boros bensin ini? Mengapa para kolektor dan bikers garis keras rela berburu dan merogoh kocek dalam-dalam untuk motor yang umurnya sudah melampaui dua dekade ini?

Berikut adalah empat alasan utama mengapa RX-King tak pernah kehilangan pamor:

1. Sensasi “Jambakan Setan” yang Tiada Duanya

Di balik desainnya yang terkesan sederhana dan old school, RX-King menyimpan mesin 135 cc dengan performa brutal. Para bikers menjulukinya sebagai “jambakan setan.”

Berbeda total dengan motor 4-tak modern yang karakternya halus, RX-King dibekali teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS). Kombinasi ini menghasilkan tenaga yang melimpah ruah di setiap putaran mesin. Bayangkan, dengan bodi yang enteng, motor tua ini sanggup memuntahkan tenaga hingga 18,5 PS pada 9.000\ rpm.

Hanya dengan sedikit putaran pada grip gas, karburator Mikuni 26\ mm mampu membuat RX-King berakselerasi sangat cepat—tak heran motor ini dijuluki “Jet Darat.” Sensasi akselerasi inilah yang menciptakan keterikatan emosional dan candu bagi pengendaranya.

2. Kombinasi Kecepatan dan Kenyamanan Harian

Meski memiliki performa setara motor balap, RX-King unggul dalam hal kenyamanan untuk penggunaan harian (daily use).

Jika dibandingkan dengan rival seangkatannya di kelas motor sport 2-tak seperti Suzuki RGR 150 atau Kawasaki Ninja R 150 yang punya desain full fairing dan posisi berkendara menunduk, RX-King jauh lebih “manusiawi.” Posisi duduk yang tegak pada RX-King membuat pengendara tidak cepat pegal, bahkan saat harus menembus kemacetan panjang.

Ditambah dengan ban berprofil tebal pada ring 18 inci, motor ini sangat siap melibas jalanan aspal yang rusak atau bergelombang, menjadikannya kencang sekaligus tangguh di berbagai kondisi jalan.

3. Aura “Bad Boy” dan Misteri RX-King Master 1999

Sejarah mencatat evolusi panjang Sang Raja, mulai dari generasi “Cobra” (1983) hingga generasi terakhir yang akhirnya terganjal regulasi emisi Euro 3.

Namun, salah satu era yang paling ikonik dan diburu kolektor adalah RX-King Master (1996-2001). Generasi ini sudah diproduksi di Indonesia dan memiliki daya tarik tersendiri. Model tahun 1999, khususnya, sempat viral dan paling dicari karena memiliki striping warna yang khas (hijau, merah, dan ungu). Varian dengan striping hijau sering dikaitkan dengan aura maskulin yang kuat dan citra “bad boy” legendaris di jalanan.

4. Komunitas Solid dan Harga Bekas yang “Gelap”

Yamaha memang sudah menghentikan inovasinya pada motor ini, namun di jalan raya, motor ini menolak punah.

Faktanya, komunitas RX-King adalah salah satu yang paling solid dan aktif. Solidaritas kuat antar pemilik inilah yang turut menjaga harga bekasnya tetap tinggi—bahkan sering disebut “gelap” atau tidak masuk akal di pasaran.

Isu boros bensin dan asap knalpot yang ngebul seolah tak berarti apa-apa dibandingkan dengan sensasi akselerasi, nilai historis, dan kebanggaan menjadi bagian dari komunitas “Raja Jalanan.”

Comment