MENITNEWS.COM, MAROS — Tren kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam lima tahun terakhir, menyoroti tantangan serius dalam upaya pencegahan dan edukasi kesehatan masyarakat di daerah tersebut.
Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Maros, mencatat lonjakan kasus yang signifikan, dengan pola penularan terbanyak didominasi oleh hubungan seksual sesama jenis atau yang diklasifikasikan sebagai Lelaki Seks Lelama (LSL).
Peningkatan kasus ini menjadi sorotan utama menyusul Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada Senin, 1 Desember 2025.
Pemerintah Kabupaten Maros menegaskan bahwa, data ini merupakan klasifikasi epidemiologis semata yang bertujuan untuk kepentingan kesehatan publik dan bukan untuk menstigma kelompok masyarakat tertentu.
Lonjakan Kasus Mencapai Titik Tertinggi
Data komprehensif dari Dinkes Maros memperlihatkan pola peningkatan kasus baru dari tahun ke tahun, yang puncaknya terjadi pada tahun 2024.
Secara kumulatif, penambahan kasus terus merangkak naik, dari 23 kasus pada 2021 menjadi 48 kasus pada 2024. Sementara itu, hingga 31 November 2025 lalu, tercatat 23 kasus baru, dimana penularan tertinggi tetap berada dalam kategori LSL.
Angka tahun 2024 menjadi rekor tertinggi kasus baru yang tercatat dalam periode data tersebut, menggarisbawahi urgensi intervensi yang lebih masif.
Menanggapi situasi ini, Bupati Maros, Chaidir Syam, membenarkan adanya peningkatan kasus, khususnya pada tahun 2024. Ia menekankan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros telah mengambil langkah proaktif dengan memperkuat strategi pencegahan dan edukasi di lapisan masyarakat paling bawah.
“Kami telah membentuk Forum Masyarakat Peduli HIV/AIDS di seluruh desa dan kelurahan,” ujar Bupati Maros, Chaidir Syam, Selasa (2/12/2025).
“Forum ini dibentuk agar edukasi berjalan sampai ke tingkat masyarakat paling bawah. Fokusnya bukan hanya sosialisasi, tetapi juga pendampingan dan yang paling penting, penghilangan stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA),” tambahnya.
Isu Kemanusiaan di Tingkat Provinsi
Tantangan HIV/AIDS tidak hanya dihadapi oleh Maros. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Malik Faisal, menyampaikan bahwa di tingkat provinsi, kasus HIV/AIDS tercatat mencapai angka 11.137 orang sepanjang periode 2020 hingga 2024.
Malik Faisal menegaskan bahwa Hari AIDS Sedunia merupakan momentum penting untuk mengubah sudut pandang masyarakat dalam melihat isu HIV.
“Ini bukan hanya persoalan angka, tetapi ini adalah persoalan kemanusiaan,” tegasnya, menyerukan pendekatan yang lebih empatik dan inklusif.
Tema nasional Hari AIDS Sedunia tahun ini, yaitu “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV/AIDS”, diharapkan mampu mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk menjamin ketersediaan layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi ODHA, termasuk akses terhadap pengobatan Antiretroviral (ARV) dan dukungan psikososial.
Pemerintah Kabupaten Maros, bersama dengan unsur kesehatan masyarakat, terus mengedukasi masyarakat mengenai berbagai jalur penularan HIV, seperti seks tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada penyalahgunaan narkoba, serta penularan dari ibu ke anak (Prevention of Mother-to-Child Transmission/PMTCT).
Upaya masif ini diharapkan dapat memutus rantai penularan dan menciptakan lingkungan yang suportif bagi ODHA di Kabupaten Maros. (*)
Comment