Aktor Epy Kusnandar Meninggal Dunia Akibat Stroke Batang Otak

(Instagram/epy_kusnandar)

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM– Aktor Epy Kusnandar mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), Jakarta, pada Rabu (3/12/2025) pukul 14.24 WIB.

Kronologi dan Penjelasan Keluarga

Proses meninggalnya Epy Kusnandar dijelaskan berlangsung sangat cepat oleh pihak keluarga yang diwakili oleh putranya, Damar Rizal Marzuki, dan adiknya, Deniar Hendarsah.

“Kronologisnya begitu cepat kalau kata dokter. Karena, penyakitnya berhubungan dengan alat yang paling vital, otak manusia ya. Sama kayak jantung,” kata Damar Rizal Marzuki saat ditemui di rumah duka kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Deniar Hendarsah menjelaskan bahwa Epy mengalami penyumbatan pembuluh darah di batang otak (brainstem).

“Batang otak itu katanya ukurannya cuma segini. Yang tersumbatnya hanya satu tapi itu pusat kontrol kehidupan. Gerak, napas,” terang Deniar Hendarsah, dikutip dari detik.com.

Karena kondisinya yang sudah kritis, mencapai tahap semi-koma, dan tensi tinggi yang tak kunjung turun, tindakan operasi tidak mungkin dilakukan. Pihak rumah sakit telah memberikan upaya maksimal, termasuk alat bantu oksigen dan obat-obatan untuk menaikkan kesadaran. Namun, kondisi Epy justru semakin memburuk ketika tensinya mulai turun.

Penjelasan Medis Mengenai Batang Otak

Untuk memberikan konteks medis, Direktur Medik dan Keperawatan RS PON, dr Reza Aditya Arpandy, SpS, turut menjelaskan peran vital dari batang otak.

“Batang otak adalah bagian otak yang sangat kecil namun berfungsi sebagai pusat pengatur kehidupan dasar, seperti napas, kesadaran, detak jantung, dan gerakan tubuh,” ucap dr Reza saat dihubungi terpisah.

dr Reza mengatakan, apabila terjadi gangguan aliran darah di batang otak—baik karena sumbatan maupun pecah pembuluh darah—suplai oksigen dapat berhenti mendadak. Kondisi ini dikenal sebagai stroke batang otak.

“Ini merupakan salah satu bentuk stroke yang paling berbahaya karena area yang terdampak adalah pusat yang vital,” jelasnya. “Itulah mengapa kondisi dapat memburuk secara sangat cepat dan dapat menyebabkan koma hingga henti napas.” (*)

Comment