Leang-Leang: Menjaga Jejak Peradaban 52 Ribu Tahun Menuju Warisan Dunia

ads
ads

MENITNEWS.COM, ​MAROS — Taman Arkeologi Leang-Leang (Leang Leang Archaeological Park) di Kabupaten Maros kini memegang peran sentral, tidak hanya sebagai destinasi wisata populer, tetapi juga sebagai inti dari Kawasan Karst Maros-Pangkep yang telah diakui dunia.

​Bupati Maros, Chaidir Syam, menetapkan Leang-Leang sebagai salah satu dari tiga destinasi wisata prioritas di Maros, berdampingan dengan Taman Nasional Bantimurung dan Kawasan Rammang-Rammang.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi situs ini pasca penetapannya sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).

​Jantung Karst Kelas Dunia

​Penetapan Geopark Maros-Pangkep sebagai UGGp secara resmi dilakukan pada Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis, pada Mei 2023. Kawasan geopark ini mencakup wilayah seluas 5.077,25 km² dan diyakini sebagai salah satu kawasan karst tropis terluas di dunia, bahkan disebut terbesar kedua setelah Tiongkok Selatan.

Gugusan karst yang membentang luas ini menjadi rumah bagi 13 Geosite di Maros dan 16 Geosite di Pangkep.

​Leang-Leang, yang dalam bahasa setempat berarti “gua,” adalah gudang pengetahuan prasejarah. Diperkirakan gua-gua di kawasan ini telah dihuni manusia purba sejak 3.000 hingga 8.000 tahun Sebelum Masehi (SM).

Namun, temuan arkeologi di dalamnya bahkan jauh lebih tua, termasuk lukisan dinding gua seperti gambar telapak tangan, babi rusa, dan artefak lainnya yang mencapai usia 52 ribu tahun—salah satu temuan tertua di dunia.

Lukisan-lukisan ini, seperti yang terdapat di dua gua utama yang dibuka untuk wisata, Leang Pattae dan Leang Petta Kerre, menjadi bukti nyata adanya peradaban manusia prasejarah yang disebut sebagai Kebudayaan Toala.

​Edukasi dan Pelestarian Menjadi Prioritas

​Bupati Chaidir Syam menegaskan bahwa esensi Leang-Leang harus lebih dari sekadar tempat berwisata dan berfoto.

​”Taman Wisata Purbakala ini menjadi sebuah pengetahuan yang paling utama buat anak cucu kita bahwa dia bukan cuma indah, bukan cuma menarik, tetapi dia punya sejarah yang harus menjadi diketahui oleh anak cucu kita, bahwa kita punya pengalaman prasejarah yang sungguh luar biasa,” tegas Chaidir.

​Pemerintah Maros kini bersinergi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mengelola dan memajukan Taman Arkeologi ini. Tantangan terbesar adalah bagaimana memadukan warisan sejarah purbakala dengan peradaban modern tanpa merusak keasliannya.

​Untuk menjaga kelestarian lukisan gua yang sangat sensitif terhadap suhu tubuh manusia, pengelola kini menerapkan pembatasan jumlah pengunjung yang naik ke dalam gua.

Hal ini sejalan dengan pandangan para arkeolog yang menjuluki Maros sebagai “The City of Arkeolog” (Kota Arkeolog), di mana mengeksplorasi Maros tidak akan sempurna tanpa menelisik temuan prasejarahnya.

​Dengan keunikan yang tidak dimiliki tempat wisata lain, Leang-Leang diharapkan pemerintah Kabupaten Maros, dapat meningkatkan statusnya dari UNESCO Global Geopark menjadi The World Heritage atau Warisan Dunia, memastikan jejak peradaban ribuan tahun ini terjaga sebagai ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang. (*)

Comment