Sambut Putaran Kedua, Tomas Trucha Ingin Tambah Bek Lokal dan Asing, Tapi PSM Makassar Terbentur Sanksi FIFA

ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Kekalahan di Samarinda membuka kembali lubang lama PSM Makassar: rapuh di lini belakang saat laga memasuki fase krusial.

Situasi itu membuat Pelatih Kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, angkat suara jelang dibukanya bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026. Ia terang-terangan menyebut sektor bek sebagai prioritas utama pembenahan tim.

“Kita sedang mencari pemain-pemain untuk mengisi posisi tersebut,” ungkap Tomas Trucha, Senin (5/1/2026).

PSM baru saja menelan kekalahan 1-2 dari Borneo FC di Stadion Segiri. Padahal, Juku Eja tampil meyakinkan di awal laga.

Gol cepat Alex Tanque pada menit kedua, sempat memberi harapan besar. Namun dua gol sundulan Joel Vinicius di babak kedua, membalikkan keadaan dan memaksa PSM pulang tanpa poin.

Hasil tersebut menjadi alarm keras bagi Trucha. Pelatih asal Republik Ceko itu menilai komposisi timnya masih membutuhkan tambahan amunisi, baik dari pemain lokal maupun asing, demi menghadapi putaran kedua liga.

“Kita sedang mencari pemain-pemain lokal dan juga asing. Keduanya,” ujar Trucha menegaskan.

Masalahnya, rencana itu tidak berjalan di ruang hampa. PSM masih terbelit sanksi FIFA yang melarang klub mendaftarkan pemain baru.

Bursa transfer Super League dijadwalkan dibuka pada 10 Januari hingga 6 Februari 2026, namun hingga hari ini, status sanksi PSM di laman resmi FIFA belum dicabut.

Larangan transfer tersebut diduga berkaitan dengan tunggakan gaji di masa lalu. Selama kewajiban itu belum diselesaikan, PSM tidak bisa menambah pemain, meski kebutuhan tim semakin mendesak.

Kekalahan dari Borneo FC memperjelas masalah itu. Setelah unggul di babak pertama, PSM gagal menjaga konsentrasi. Sebelumnya, PSM juga kalah beruntun saat menjamu Malut United 0-1 dan takluk di kandang Persib Bandung 1-0.

PSM masih punya waktu berbenah. Namun tanpa kepastian soal pencabutan sanksi FIFA, keinginan Trucha mendatangkan bek baru berpotensi hanya tinggal rencana.

Di tengah ketatnya persaingan liga, manajemen Juku Eja kini berpacu dengan waktu: menyelesaikan masalah administratif atau kembali mengandalkan skuad yang ada dengan segala risikonya. (*)

Comment