Mengenal Sejarah Simbol “@”: Dari Tombol “Kesepian” hingga Menjadi Jembatan Komunikasi Dunia

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Di era digital saat ini, simbol “@” telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas manusia. Mulai dari alamat e-mail hingga identitas di media sosial, tanda kecil yang dibaca “at” ini muncul miliaran kali setiap harinya. Namun, siapa sangka bahwa sebelum menjadi ikon global, simbol ini nyaris terlupakan dan jarang tersentuh di papan ketik.

Keberadaan simbol “@” sebagai standar komunikasi digital bukanlah hasil dari perencanaan matang sebuah komite teknologi, melainkan buah dari keputusan praktis seorang insinyur komputer pada awal 1970-an.

Eksperimen Ray Tomlinson dan ARPANET

Kisah ini bermula pada tahun 1971. Ray Tomlinson, seorang insinyur di BBN Technologies yang bekerja untuk proyek ARPANET (cikal bakal internet), tengah mencari solusi untuk mengirim pesan teks antar-komputer.

Masalah utama yang dihadapi Tomlinson saat itu adalah bagaimana memisahkan identitas pengguna dengan identitas mesin komputer tempat mereka bekerja. Ia membutuhkan sebuah simbol pemisah yang unik agar sistem tidak bingung saat membaca alamat tujuan.

Alasan “@” Terpilih: Unik dan Jarang Pakai

Dalam proses pencariannya, Tomlinson menyingkirkan banyak karakter. Huruf, angka, serta tanda baca umum seperti titik (.), koma (,), dan garis miring (/) sudah memiliki fungsi khusus dalam sistem operasi saat itu. Menggunakan karakter tersebut berisiko menyebabkan konflik teknis atau error.

Beberapa alasan mengapa akhirnya simbol “@” yang dipilih antara lain:

  • Minim Risiko Konflik: Pada masanya, “@” hampir tidak memiliki fungsi khusus di dunia komputer. Simbol ini adalah penghuni “sepi” di papan ketik yang jarang digunakan oleh pemrogram.

  • Makna Semantik yang Tepat: Dalam bahasa Inggris perdagangan, “@” berarti “at” (pada/di), seperti pada penulisan harga barang.

  • Logika Penempatan: Tomlinson menyadari bahwa format nama_pengguna @ nama_komputer secara harfiah berarti “pengguna ini berada di mesin ini”. Logika sederhana inilah yang dianggap paling masuk akal.

Dari Eksperimen ke Standar Global

Meski awalnya hanya digunakan dalam lingkungan riset internal, format ciptaan Tomlinson ini terbukti sangat efektif. Seiring dengan lahirnya layanan e-mail publik seperti Yahoo! Mail, Hotmail, hingga Gmail, struktur tiga bagian—nama pengguna, simbol @, dan domain—tetap dipertahankan.

Format ini kemudian dibakukan secara internasional melalui protokol SMTP (Simple Mail Transfer Protocol). Seiring berjalannya waktu, fungsi “@” pun berevolusi. Dari sekadar pemisah alamat e-mail, kini simbol tersebut menjadi alat navigasi sosial di platform seperti X (Twitter) dan Instagram untuk menandai (mention) seseorang.

Warisan yang Abadi

Ray Tomlinson wafat pada tahun 2016, namun warisannya tetap hidup di setiap sudut dunia maya. Jika saja saat itu ia memilih simbol lain seperti tanda sama dengan (=) atau tanda kurung, mungkin tampilan dunia digital kita hari ini akan terasa sangat asing.

Berkat keputusan praktis yang diambilnya lebih dari lima dekade lalu, simbol “@” kini berdiri sebagai jembatan komunikasi yang menghubungkan miliaran orang di seluruh dunia. (Dihimpun dari Smithsonian Magazine/KompasTekno). (*)

Comment