Sambut 2026 dengan Resolusi Hijau: Memulai Gaya Hidup Zero Waste

(Foto: Google)

ads
ads

MAKASSAR, MENITNEWS.COM– Tahun 2025 telah berlalu, dan kini kita menapaki tahun baru 2026. Umumnya, resolusi tahun baru berfokus pada capaian pribadi seperti karier, pendidikan, atau pernikahan. Namun, melihat rentetan bencana alam sepanjang 2025 di Sumatra Utara, Bali, hingga Serang, sudah saatnya kita menyertakan resolusi lingkungan dalam agenda hidup kita.

Menjaga alam bukan sekadar tren, melainkan kewarisan untuk anak cucu. Sebagaimana ungkapan Prof. Ermaya Suradinata, hubungan manusia dan alam bisa positif jika kita memikirkan keberlanjutan jangka panjang, atau negatif jika kita hanya mengeksploitasi demi keuntungan sesaat.

Realitas Sampah di Indonesia

Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan:

  • Produksi sampah: Rata-rata 0,7–1 kg per orang setiap hari.

  • Total nasional: Sekitar 175.000 ton sampah per hari.

  • Kondisi pengelolaan: Baru 33,77% sampah yang terkelola dengan baik, sementara sisanya (66,23%) tidak terkelola dan mencemari lingkungan.

Salah satu solusi nyata yang bisa kita ambil adalah mulai menerapkan gaya hidup Zero Waste.


7 Langkah Memulai Gaya Hidup Zero Waste

Gaya hidup ini bukan berarti tidak menghasilkan sampah sama sekali, melainkan upaya bijak untuk mengurangi beban bumi. Berikut adalah panduannya:

  1. Ubah Mindset tentang Sampah Sadarilah bahwa sampah kita adalah tanggung jawab kita. Membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup; kita harus mulai mencegah timbulnya sampah agar tidak mencemari air, tanah, dan udara.

  2. Kurangi Barang Sekali Pakai Hindari kontributor sampah terbesar seperti sedotan plastik, kantong kresek, dan gelas plastik. Gantikan dengan barang yang bisa digunakan berulang kali.

  3. Maksimalkan Barang yang Sudah Ada Anda tidak perlu membeli produk “eco-friendly” yang mahal untuk memulai. Gunakan kembali wadah plastik atau tas belanja yang sudah tersedia di rumah secara maksimal.

  4. Hargai Proses dan Abaikan Stigma Mungkin ada yang menganggap gaya hidup ini “ribet”. Tetaplah fokus pada kendali diri sendiri. Memberi contoh nyata jauh lebih efektif daripada sekadar berargumen.

  5. Pahami Bahwa Ini Bukan Proses Instan Butuh waktu untuk terbiasa membawa tumbler atau tas belanja sendiri. Mulailah dari langkah kecil secara konsisten hingga menjadi kebiasaan (habit).

  6. Kejar Proses, Bukan Kesempurnaan Jangan terbebani untuk menjadi sempurna dalam semalam. Zero waste adalah prinsip hidup yang terus berproses dan berkembang seiring waktu.

  7. Zero Waste Tidak Selalu Berarti “Nol” Banyak yang lebih nyaman menggunakan istilah low waste (minim sampah). Yang terpenting adalah pengurangan secara signifikan, bukan obsesi terhadap angka nol.


Belajar dari Jepang: Budaya sebagai Kunci

Jepang menjadi bukti nyata keberhasilan pengelolaan sampah. Pada 2018, hanya 1% sampah warga Jepang yang berakhir di TPA, sementara 99% lainnya berhasil dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Keberhasilan ini tidak hanya karena teknologi canggih, tetapi karena pendekatan budaya. Indonesia pun memiliki potensi yang sama jika kita mampu mengintegrasikan tiga aspek penting (Good Governance):

  • Sub-kultur Kekuasaan: Regulasi yang mendukung.

  • Sub-kultur Ekonomi: Konsep ekonomi sirkular.

  • Sub-kultur Sosial: Kesadaran kolektif masyarakat.

Kesimpulan

Mewujudkan Indonesia yang lebih bersih di tahun 2026 tidak selalu butuh teknologi mahal atau sanksi berat. Yang kita butuhkan adalah kesadaran individu untuk bertanggung jawab atas sampahnya masing-masing secara kolaboratif dan konsisten.

Mari mulai hari ini. Yuk, bisa 2026 Zero Waste!

Comment