Deskripsi: Kisah heroik Arman, warga Pangkep yang menemukan jenazah korban pesawat ATR 42-500 di jurang Gunung Bulusaraung. Ditemukan barang pribadi berupa laptop dan paspor.
MENITNEWS.COM, PANGKEP — Di tengah kabut tebal dan medan ekstrem Gunung Bulusaraung, sebuah titik terang dalam misi pencarian Pesawat ATR 42-500 akhirnya muncul.
Adalah Arman (38), seorang warga lokal Desa Tompobulu, yang menjadi saksi mata pertama penemuan salah satu korban di dasar tebing curam.
Minggu (18/1/2026) siang, sekitar pukul 14.00 WITA, langkah kaki Arman terhenti saat menyisir area di bawah tebing.
Di tengah keheningan hutan pegunungan Pangkep, ia melihat sesosok jenazah laki-laki yang tergeletak di posisi menghadap jurang.
”Saya temukan sekitar jam 2 siang. Posisinya di bawah tebing, menghadap turun ke jurang,” kenang Arman dengan suara bergetar.
Meskipun medan di lokasi sangat berbahaya, Arman memberanikan diri mendekat. Ia mendapati kondisi jenazah yang masih relatif utuh, namun dikelilingi oleh benda-benda yang hancur berserakan.
Di sekitar lokasi penemuan, Arman melihat jejak-jejak terakhir sang penumpang. Beberapa barang pribadi ditemukan dalam kondisi rusak berat akibat benturan hebat:
- Identitas: KTP, Paspor, dan 3 buah kartu ATM yang terpotong-potong.
- Elektronik: Dua unit laptop dan satu telepon genggam.
- Lainnya: Pakaian korban yang berserakan di sekitar serpihan pesawat.
”Saya tidak ambil (barangnya) karena sudah hancur. Semuanya rusak,” ungkap Arman, soal jenazah korban Pesawat ATR 42-500.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa titik penemuan korban Pesawat ATR 42-500 berada pada koordinat 04^\circ 54’ 44” LS dan 119^\circ 44’ 48” BT.
Lokasi tersebut merupakan jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter.
”Korban ditemukan di jurang yang sangat dalam, dekat dengan sebaran serpihan pesawat,” jelas Arif.
Namun, mengevakuasi jenazah bukan perkara mudah. Tim SAR gabungan harus berhadapan dengan:
- Tebing Vertikal: Kemiringan ekstrem yang memerlukan teknik roping khusus.
- Cuaca Buruk: Hujan deras yang mengguyur lokasi sejak siang.
- Jarak Pandang: Kabut tebal yang menyelimuti gunung membuat jarak pandang hanya tersisa 5 meter.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi masih berlangsung dengan sangat hati-hati. Mengingat risiko longsor dan licinnya medan, tim logistik terus dikerahkan ke puncak untuk menyuplai peralatan tambahan.
”Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama. Operasi kami lakukan secara terukur dan berdasarkan analisis risiko lapangan,” tegas Arif Anwar.
Operasi pencarian korban Pesawat ATR 42-500 lainnya masih terus dilakukan, dengan membagi tim ke beberapa sektor (SRU) untuk menyisir area yang lebih luas di Kawasan Gunung Bulusaraung. (*)
Comment