SAN BRUNO, MENITNEWS.COM – YouTube resmi memperbarui pedoman monetisasi bagi para kreator di platformnya. Kebijakan baru ini memungkinkan konten bertema sensitif dan kontroversial untuk mendapatkan pendapatan iklan penuh, selama materi tersebut disajikan secara tidak grafis.
Dikutip dari TechCrunch, Minggu (18/1/2026), perubahan ini menandai langkah besar YouTube dalam memberikan fleksibilitas bagi konten yang bersifat edukatif, informatif, maupun drama fiksi.
Perluasan Topik Monetisasi
Dalam aturan terbaru ini, sejumlah topik yang sebelumnya sulit mendapatkan iklan kini mulai diizinkan untuk monetisasi penuh. Topik-topik tersebut meliputi:
-
Isu Kesehatan & Sosial: Pembahasan mengenai melukai diri sendiri (self-harm) dan aborsi.
-
Isu Kemanusiaan: Pembahasan terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
YouTube menjelaskan bahwa sebelumnya, detail deskriptif atau visual sering kali membuat video otomatis mendapatkan “ikon dolar kuning” (iklan terbatas). Dengan kebijakan baru, selama kreator menghindari adegan yang terlalu eksplisit atau detail grafis yang berlebihan, mereka berhak atas pendapatan iklan secara maksimal.
Respons Atas Keluhan Kreator
Pelonggaran ini merupakan jawaban atas keluhan panjang para kreator konten. Banyak dari mereka merasa pedoman lama terlalu kaku, sehingga konten yang bertujuan mengedukasi atau berbagi pengalaman pribadi justru kehilangan potensi pendapatan.
“Pedoman kami kini menjadi lebih permisif. Tujuannya agar kreator yang membahas isu penting dalam konteks yang tepat bisa memperoleh pendapatan yang lebih besar,” tulis YouTube melalui kanal Creator Insider.
Batasan Ketat yang Tetap Berlaku
Meski lebih terbuka terhadap isu sensitif, perusahaan milik Google ini menegaskan bahwa ada “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. YouTube tetap melarang keras monetisasi untuk konten yang berkaitan dengan:
-
Pelecehan dan perdagangan seks anak.
-
Gangguan makan (eating disorders).
Kedua kategori di atas, termasuk dalam bentuk dramatisasi sekalipun, tetap dianggap tidak layak untuk mendapatkan iklan demi menjaga keamanan pengguna dan reputasi pengiklan.
Tren Moderasi Berbasis Kepentingan Publik
Kebijakan ini sejalan dengan arah moderasi YouTube setahun terakhir. Platform video raksasa ini mulai memprioritaskan konten yang memiliki kepentingan publik, seperti diskusi isu politik dan sosial, untuk tetap bertahan di platform tanpa sensor yang berlebihan. (*)
Comment