Melejit! Bea Cukai Sulbagsel Sukses Lampaui Target Penerimaan 2025, Bea Keluar Jadi Bintang Utama

ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), mencatatkan rapor hijau di penghujung tahun 2025.

Hingga akhir tahun anggaran, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai berhasil menembus angka Rp392,7 miliar, atau mencapai 122,33% dari target yang telah ditetapkan.

​Capaian ini menjadi sinyal kuat gairah perdagangan internasional di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, meskipun di tengah fluktuasi ekonomi global.

​Lonjakan penerimaan ini tidak lepas dari performa luar biasa di sektor ekspor. Berikut adalah rincian kontribusi dari setiap lini:

​Bea Keluar: Menjadi motor penggerak utama dengan realisasi sebesar Rp51,2 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan masif karena melonjaknya volume ekspor komoditas andalan seperti nikel (feronikel) dan hasil perkebunan.

​Bea Masuk: Berhasil mengumpulkan Rp233,7 miliar. Meski sempat menghadapi tantangan pembatasan impor beberapa komoditas pangan, aktivitas impor bahan baku industri tetap stabil mendukung manufaktur lokal.

​Cukai: Realisasi mencapai Rp107,2 miliar. Peningkatan ini didorong oleh efektivitas kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) dan pengawasan minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

Gempur Rokok Ilegal: Amankan Triliunan Rupiah Potensi Negara

​Selain fungsi pengumpulan pendapatan (revenue collector), Bea Cukai Sulbagsel juga menunjukkan taringnya dalam fungsi perlindungan masyarakat (community protector).

​Sepanjang tahun 2025, dilakukan ribuan penindakan terhadap peredaran barang ilegal. Salah satu pencapaian mencolok adalah penyitaan lebih dari 44 juta batang rokok ilegal.

Langkah tegas ini berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara hingga puluhan miliar rupiah sekaligus melindungi industri rokok legal di Tanah Air.

Dukungan UMKM dan Fasilitas Ekspor

​Bea Cukai Sulbagsel tidak hanya memungut pajak, tapi juga memfasilitasi kemudahan bagi pelaku usaha:

​Ekspor Perdana UMKM: Pemberian asistensi melalui program Customs Goes to Export yang berhasil membantu UMKM lokal mengirim produk kelapa dan hasil laut ke pasar internasional seperti Vietnam dan Tiongkok.

​Digitalisasi Layanan: Implementasi sistem logistik nasional (NLE) di Makassar yang mempercepat proses pemeriksaan barang, sehingga biaya logistik para eksportir menjadi lebih efisien.

​”Keberhasilan melampaui target ini adalah buah dari sinergi antara pengawasan yang ketat dan pelayanan yang semakin mudah. Kami berkomitmen menjadikan Sulbagsel sebagai hub ekspor yang kompetitif di Indonesia Timur,” ujar Djaka Kusmartata, Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagsel, Senin (26/1/2026).

Dengan fondasi yang kuat di tahun 2025, Bea Cukai Sulbagsel optimis menyambut tahun 2026 dengan memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara internasional guna memastikan kedaulatan ekonomi tetap terjaga.

Berdasarkan data kinerja ekspor dan capaian Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) tahun 2025, wilayah ini memiliki beberapa komoditas “juara” yang menjadi mesin pencetak devisa Negara.

​Berikut adalah daftar komoditas unggulan Sulbagsel yang paling berkontribusi besar terhadap penerimaan Bea Keluar dan devisa ekspor:

Daftar Komoditas Unggulan Penyumbang Devisa Sulbagsel 2025

Peran Terhadap Devisa: Feronikel & Produk Nikel. Pertambangan: Tiongkok, Jepang, Korea Selatan. Penyumbang terbesar devisa melalui Bea Keluar di wilayah Sultra dan Sulsel.

Olahan Kelapa (Ekstrak & Kopra). Perkebunan:  Vietnam, Tiongkok, Eropa. Komoditas yang konsisten menyumbang devisa melalui volume ekspor yang tinggi.

Produk Perikanan (Udang & Ikan). Kelautan: Jepang, Amerika Serikat. Komoditas non-tambang dengan nilai tambah tinggi dan standar Internasional.

Kakao (Biji & Olahan). Perkebunan: Malaysia, Amerika Serikat. Sulsel tetap menjadi hub utama ekspor cokelat untuk Pasar Global.

Rumput Laut. Kelautan: Tiongkok, Filipina. Komoditas rakyat yang menyumbang devisa secara masif dari sektor pesisir.

Kayu & Produk Perkayuan. Kehutanan: Uni Emirat Arab, Asia Timur. Termasuk furnitur dan kayu olahan yang memiliki nilai seni dan industri.

Mengapa Komoditas Ini Begitu Penting?

​Dominasi Nikel: Seiring dengan tren hilirisasi, ekspor nikel tidak lagi dalam bentuk mentah, melainkan olahan (seperti feronikel).

Hal ini meningkatkan nilai jual berkali-kali lipat yang berujung pada Bea Keluar yang lebih besar bagi kas negara.

​Kebangkitan UMKM Ekspor: Banyak dari komoditas di atas (seperti kelapa dan rumput laut) kini mulai diekspor langsung oleh pelaku UMKM melalui pelabuhan lokal di Kota Makassar dan Kendari.

Bukan lagi melalui Surabaya atau Jakarta, sehingga devisa tercatat penuh di Sulbagsel.

​Fasilitas KITE: Banyak perusahaan eksportir di Sulbagsel menggunakan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dari Bea Cukai, yang membuat produk mereka lebih kompetitif di Pasar Global karena efisiensi biaya produksi.

​Catatan Menarik Bea Cukai Sulbagsel: Pada tahun 2025, terjadi tren peningkatan ekspor pada komoditas rempah-rempah dan kopi dari wilayah pegunungan Sulawesi, yang perlahan mulai merangkak naik menjadi primadona baru devisa.
(*)

Comment