​Komitmen Green Mining di Pomalaa: PT Vale Indonesia Respons Masukan LSM Dengan Transparansi Data

ads
ads

MENITNEWS.COM, POMALAA — PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), kembali mempertegas posisinya sebagai pionir pertambangan berkelanjutan di Indonesia.

Melalui pengembangan Proyek Pertumbuhan Indonesia (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara, perusahaan berkomitmen menyelaraskan operasional industri dengan kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat lokal.

​Meskipun kegiatan penambangan baru akan dimulai pada tahun 2026—setelah fase konstruksi smelter tuntas di akhir 2025—PT Vale memastikan seluruh langkah awal telah melalui kajian lingkungan yang sangat ketat.

​Menjawab Kritik Dengan Fakta: Data Pembukaan Lahan

​Menanggapi laporan riset dari Yayasan Satya Bumi dan Puspaham, Direktur & Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, memberikan klarifikasi terkait luasan lahan yang dikelola.

​Berdasarkan data internal perusahaan, terdapat perbedaan signifikan angka pembukaan lahan dibandingkan dengan temuan riset tersebut:

    • ​Total Bukaan Lahan (2024-2025): Tercatat seluas 487,9 Ha, jauh lebih rendah dari angka 854,29 Ha yang disampaikan Satya Bumi.
    • ​Total Area IUPK yang Dibuka: Baru mencapai 880,3 Ha (hanya 4,3% dari total luas konsesi).
    • ​Area Hutan Lindung: Hanya 82,4 Ha (0,4% dari total luas konsesi) yang digunakan untuk kebutuhan mendesak.

​”Keselamatan adalah hal krusial, bukan hanya untuk pekerja tetapi juga lingkungan tempat kami beroperasi. Kami memandang perlindungan kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama,” tegas Budiawansyah, Senin (26//2026).

​Inovasi Kajian Hidrologi: Menjaga Kualitas Air

​Salah satu poin krusial dalam diskusi publik tersebut adalah pengelolaan air. PT Vale Indonesia memastikan bahwa sebelum satu meter pun lahan ditambang, Kajian Hidrologi mendalam telah dilakukan untuk mengelola air limpasan (run-off).

​Langkah-langkah mitigasi yang dilakukan PT. Vale Indonesia meliputi ​Pemetaan Presisi: Memetakan daerah tangkapan air dan arah aliran air limpasan secara detail.

Fasilitas Pengendali Sedimen: Membangun infrastruktur penangkap sedimen dengan kapasitas yang sesuai dengan rencana pembukaan lahan.

Pemantauan Rutin: Melakukan pengecekan parameter baku mutu air secara berkala sebelum dialirkan ke badan air publik.

​Terkait keluhan kesehatan warga di Desa Hakatutobu, Budiawansyah menjelaskan bahwa secara teknis, wilayah tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbeda dengan jalur keluaran air limpasan tambang PT Vale.

​Standar Tinggi: Replikasi Kesuksesan Blok Sorowako

​Optimisme PT Vale di Pomalaa didasarkan pada rekam jejak sukses di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan. Keberhasilan tersebut dibuktikan dengan sederet penghargaan bergengsi yang diraih perusahaan sepanjang 2024-2025:

Penghargaan

Penyelenggara

Kategori

PROPER Emas 2024

KLHK

Peringkat Tertinggi Pengelolaan Lingkungan

Gold Award ESG 2025

Asia ESG Positive Impact

Konservasi Keanekaragaman Hayati

Lestari Awards 2025

Terbuka Terhadap Kritik Konstruktif

​Menutup tanggapannya, PT Vale menyatakan tidak anti-kritik. Perusahaan mengapresiasi riset yang dilakukan oleh masyarakat sipil sebagai bahan evaluasi dan referensi internal.

​”Kami sangat percaya transparansi adalah cara membangun kegiatan yang lebih baik. Kami terbuka menerima masukan konstruktif dari semua pemangku kepentingan demi perlindungan lingkungan yang optimal,” pungkas Direktur & Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah. (*)

Comment