OJK Proyeksikan Sektor Jasa Keuangan Tetap Ekspansif hingga 2026 di Tengah Dinamika Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) - (foto by Shutterstock)

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) nasional akan terus berada dalam tren positif hingga tahun 2026. Keyakinan ini didasarkan pada stabilitas domestik yang terjaga meski ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (4/2), Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan pentingnya kewaspadaan dalam mengelola peluang.

“Kami yakin tren pertumbuhan akan berlanjut. Namun, efektivitas kebijakan dan kecermatan dalam melihat tantangan global tetap menjadi kunci utama,” ujar Friderica.

Target Pertumbuhan Multi-Sektor

OJK merilis outlook 2026 yang mencakup target pertumbuhan di berbagai subsektor keuangan. Sektor perbankan tetap menjadi motor utama dengan proyeksi kredit yang tumbuh dua digit.

Berikut adalah poin-poin utama target OJK tahun 2026:

  • Perbankan: Kredit diproyeksikan tumbuh 10–12%, didorong oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7–9%.

  • Dana Pensiun & Penjaminan: Aset dana pensiun diperkirakan naik 10–12%, sementara aset penjaminan melonjak paling tinggi di angka 14–16%.

  • Pasar Modal: Target penghimpunan dana dipatok mencapai Rp250 triliun.

  • Industri Keuangan Non-Bank (IKNB): Piutang perusahaan pembiayaan diprediksi tumbuh 6–8%, dengan aset asuransi naik 5–7%.

Digitalisasi dan Aset Kripto Jadi Primadona

Seiring pesatnya adopsi teknologi, OJK memperkirakan lonjakan signifikan pada layanan keuangan digital. Permintaan skor kredit melalui Innovative Credit Scoring (ICS) diprediksi mencapai 200 juta permintaan.

Selain itu, minat masyarakat terhadap aset digital terus meningkat. OJK menargetkan jumlah konsumen aset keuangan digital dan aset kripto (AKD-AK) tumbuh sebesar 26% pada tahun ini.

Menghadapi Tekanan Global, Domestik Tetap Solid

Optimisme OJK bukannya tanpa dasar. Meski lembaga multinasional memprediksi pertumbuhan global 2026 cenderung stagnan akibat risiko geopolitik di Timur Tengah (Iran) dan kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi hingga Juni 2026, kondisi dalam negeri justru menunjukkan resiliensi.

Data menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh kuat:

  1. Pertumbuhan Ekonomi: Realisasi triwulan IV mencapai 5,39%, membawa pertumbuhan tahunan ke level 5,11%.

  2. Manufaktur: Indeks PMI tetap ekspansif, menunjukkan aktivitas produksi yang bergairah.

  3. Konsumsi Masyarakat: Penjualan otomotif meningkat tajam, didukung oleh insentif kendaraan listrik yang segera berakhir.

Sinergi Menuju Stabilitas

OJK menegaskan akan terus melakukan review berkala terhadap proyeksi ini agar tetap selaras dengan dinamika pasar. Sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, dan pelaku usaha dinilai krusial untuk memastikan sektor jasa keuangan tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Stabilitas adalah fondasi. Dengan sinergi yang kuat, kita optimis peran sektor jasa keuangan akan semakin optimal dalam mendukung kesejahteraan masyarakat,” tutup laporan tersebut. (*)

Comment