JAKARTA, MENITNEWS.COM – Fenomena anak muda yang kerap mengambil jalan berbeda atau “melawan arus” sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi sebelumnya. Mulai dari pilihan gaya hidup yang eksentrik hingga sikap kritis terhadap norma sosial, perilaku ini sering dicap sebagai bentuk pembangkangan. Namun, pakar psikologi perkembangan menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian alami dari pertumbuhan manusia.
Menilik Teori Erik Erikson
Berdasarkan perspektif psikologi perkembangan yang dipopulerkan oleh tokoh Jerman-Amerika, Erik Erikson, masa remaja dan dewasa muda adalah fase krusial dalam pembentukan identitas. Dalam bukunya yang bertajuk Identity: Youth and Crisis, Erikson menjelaskan bahwa individu pada usia ini berada dalam tahapan Identity vs. Role Confusion (Identitas vs. Kebingungan Peran).
“Sikap yang terlihat sebagai upaya ‘melawan arus’ sebenarnya adalah bentuk eksplorasi identitas. Mereka mencoba berbagai peran dan sudut pandang sebelum menentukan pilihan yang paling sesuai dengan diri mereka,” tulis Erikson dalam teorinya.
Eksplorasi sebagai Jembatan Kedewasaan
Proses mempertanyakan aturan, tradisi, hingga otoritas bukanlah tanpa tujuan. Ada beberapa poin penting mengapa fase ini terjadi:
-
Pencarian Nilai Autentik: Menemukan nilai-nilai yang benar-benar diyakini secara pribadi, bukan sekadar warisan lingkungan.
-
Penegasan Eksistensi: Mengambil posisi kontras sebagai cara untuk merasa unik dan diakui sebagai individu yang mandiri.
-
Transisi Menuju Kedewasaan: Perbedaan pendapat adalah latihan mental untuk mengambil keputusan sulit di masa depan.
Erikson memperingatkan bahwa jika ruang untuk bereksplorasi ini ditutup rapat, remaja justru berisiko mengalami kebingungan peran, yang berujung pada perasaan kehilangan arah atau keterasingan sosial.
Tantangan di Era Digital
Di era modern, pencarian jati diri ini menjadi semakin kompleks. Kehadiran media sosial memberikan ruang ekspresi yang luas, namun di sisi lain menciptakan tekanan perbandingan sosial yang tinggi bagi anak muda.
Para ahli menyarankan agar lingkungan sosial—baik keluarga maupun sekolah—tidak terburu-buru menghakimi perbedaan tersebut sebagai kenakalan. Sebaliknya, dibutuhkan ruang dialog yang sehat dengan batasan yang jelas agar perbedaan pandangan tersebut dapat disalurkan menjadi diskusi yang konstruktif.
Kesimpulan
Sikap anak muda yang tampak melawan arus bukanlah ancaman bagi norma sosial, melainkan bagian penting dari perjalanan manusia dalam menemukan identitas. Dengan memahami kacamata psikologi ini, masyarakat diharapkan dapat memandang perbedaan bukan sebagai konflik, melainkan sebagai proses pendewasaan yang sehat. (*)
Comment