JAKARTA, MENITNEWS.COM – Penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes, resmi melakoni debutnya bersama raksasa Eredivisie, Ajax Amsterdam, dalam laga pekan ke-24 musim 2025-2026. Meski tampil heroik dengan rentetan penyelamatan, performa kiper berusia 27 tahun ini tak lepas dari sorotan tajam pengamat sepak bola senior Belanda.
Tembok Kokoh di Laga Debut
Menjamu NEC Nijmegen di Johan Cruyff Arena pada Minggu (22/2/2026) WIB, Paes dipercaya mengawal gawang De Godenzonen sejak menit awal. Laga ini tergolong big match mengingat kedua tim tengah bersaing ketat di posisi empat besar klasemen sementara.
Berdasarkan data dari platform statistik FotMob, Paes mencatatkan performa impresif dengan rating 7,9. Sepanjang laga, eks kiper FC Dallas ini melakukan total tujuh penyelamatan krusial yang membuat pendukung tuan rumah berdecak kagum. Meski gawangnya bobol oleh Darko Nejasmic pada menit ke-57, kontribusi Paes dianggap vital dalam membantu Ajax mengamankan satu poin.
Kritik Pedas Valentijn Driessen
Namun, di balik puja-puji suporter, jurnalis senior De Telegraaf, Valentijn Driessen, melontarkan kritik pedas. Menurutnya, statistik penyelamatan yang tinggi tidak bisa menutupi kelemahan Paes dalam aspek permainan modern.
Driessen menilai Paes masih gagap dalam melakukan skema build-up dari lini belakang. Distribusi bola yang buruk dianggap menjadi beban bagi para pemain bertahan Ajax.
“Dia melakukan beberapa penyelamatan bagus, tapi terkadang dia juga menimbulkan masalah bagi beknya dengan permainan membangun serangan. Kakinya kurang mantap,” ujar Driessen seperti dikutip dari Football Transfers.
Tak hanya soal operan, Driessen juga menyoroti keraguan Paes dalam mengantisipasi sepak pojok. Baginya, komando kiper dalam situasi bola mati (set pieces) adalah harga mati yang belum terlihat maksimal pada debut Paes tersebut.
Persaingan Ketat Menuju Pilihan Utama
Penampilan apik ini belum menjadi jaminan bagi Paes untuk menyegel status kiper nomor satu secara permanen. Ia harus bersaing dengan Vitezslav Jaros, kiper pinjaman dari Liverpool, serta talenta muda Joeri Heerkens.
Menanggapi persaingan internal di skuat asuhan Francesco Farioli tersebut, Paes menunjukkan sikap profesional dan rendah hati.
“Jika saya kiper terbaik, saya rasa pelatih akan memainkan saya. Jika dia lebih menyukai orang lain, dia akan memainkan mereka. Saya hanya perlu melakukan tugas saya dan memberikan nilai tambah sebanyak mungkin untuk Ajax,” tegas mantan kiper FC Utrecht tersebut.
Ujian berikutnya bagi Paes adalah membuktikan bahwa ia bukan sekadar “tukang tepis” bola, melainkan kiper modern yang mampu terlibat aktif dalam permainan tim secara keseluruhan. (*)
Comment