Pulihkan Laut Makassar, Unhas dan Kampus Tiongkok Sulap Pulau Bonetambung Jadi Marine Ranching

ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Kampus Tiongkok berkolaborasi. Salah satu bentuk kolaborasi itu adalah penempatan artificial reef (terumbu buatan) di Pulau Bonetambung, Kota Makassar.

Penempatan artificial reef (AR) merupakan bagian dari kerja sama internasional antara Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin, Shanghai Ocean University, dan Guangdong Ocean University.

Menurut Dekan FIKP Unhas, Prof. Mahatma Lanuru, penempatan AR di Pulau Bonetambung menjadi langkah strategis dalam upaya rehabilitasi terumbu karang yang terintegrasi dengan pengelolaan perikanan berkelanjutan.

“Hasil pemantauan awal menunjukkan dampak yang menjanjikan, baik secara ekologis maupun sosial. Ke depan, kegiatan ini akan terus dikembangkan melalui monitoring berkala, stock enhancement, dan penguatan konsep marine ranching,’’ jelas ahli Oseanografi dan Dinamika Sedimen itu, kepada Awak Media Selasa (24/2/2026) di Kampus Unhas Tamalanrea.

Menurut alumnus University of Kiel, Jerman, kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat pertukaran pengetahuan dan kapasitas teknis antar institusi.

Tetapi juga berkontribusi pada pengakuan internasional melalui capaian Bronze Winner pada Anugerah Kerja Sama Diktisaintek 2025, sebagai bentuk apresiasi atas praktik baik kerjasama perguruan tinggi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Dr. Syafyudin, ST, M.Si, salah satu tim peneliti FIKP menjelaskan, penempatan AR melibatkan penempatan struktur buatan manusia secara strategis di lingkungan laut untuk mendorong pembentukan habitat, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan mendukung perikanan.

Terumbu ini berfungsi sebagai substrat untuk karang dan organisme sesil lainnya, menyediakan tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi berbagai spesies akuatik.

Proses penempatan artificial reef membutuhkan pemilihan lokasi yang cermat, dengan mempertimbangkan faktor ekologis, hidrologis, dan sosial untuk memaksimalkan manfaat lingkungan sekaligus meminimalkan potensi dampak negatif.

Pemantauan pasca-penempatan artificial reef sangat penting untuk menilai keberhasilan ekologis dan memandu manajemen adaptif.

Pendekatan ini berkontribusi pada konservasi laut dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan dengan memulihkan habitat yang terdegradasi dan meningkatkan populasi ikan lokal.

Menurut Syafyudin, pelaksanaan penempatan artificial reef (AR) oleh Unhas ini dilakukan sejak Oktober 2024 lalu, sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan fungsi ekologi terumbu karang di Pulau Bonetambung.

Struktur yang ditempatkan meliputi terumbu buatan beton berbentuk piramida, beton berbentuk kotak, serta susunan batok kelapa. Variasi desain ini dirancang oleh Unhas untuk meningkatkan kompleksitas habitat, menyediakan tempat berlindung dan area agregasi bagi ikan dan invertebrata laut, serta menjadi substrat awal bagi penempelan larva karang dan organisme bentik lainnya.

Ahli terumbu karang itu menjelaskan, hingga saat ini, hasil pemantauan lapangan serta laporan masyarakat dan nelayan setempat menunjukkan perkembangan yang sangat positif.

Nelayan melaporkan adanya peningkatan hasil tangkapan. Contohnya,  hasil tangkapan cumi-cumi di sekitar area pemasangan. Sebelum kegiatan dilakukan, hasil tangkapan cumi-cumi umumnya hanya berkisar 1–2 kg dalam satu kali melaut.

Namun setelah adanya AR, hasil tangkapan nelayan  meningkat menjadi sekitar 3–4 kg.

’’Peningkatan ini mengindikasikan, aktivitas ini mulai berfungsi sebagai habitat baru dan area agregasi biota yang mendukung peningkatan produktivitas perairan,’’ ujar Dosen Ilmu Kelautan Unhas itu.

Dari sisi ekologis, hasil monitoring menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan ekosistem. Tidak hanya juvenil ikan yang terlihat berada di sekitar terumbu buatan tersebut, juvenil karang juga telah teramati menempel pada permukaan struktur AR, terutama pada unit beton yang memiliki tekstur dan porositas tinggi.

Selain itu, kima (Tridacnidae) yang ditempatkan sebagai bagian dari pengayaan biota juga menunjukkan pertumbuhan ukuran yang signifikan, mencerminkan kondisi lingkungan perairan yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup biota tersebut.

Sebagai tindak lanjut, kerja sama internasional antara FIKP  Universitas Hasanuddin, Shanghai Ocean University, dan Guangdong Ocean University dirancang untuk berlangsung selama beberapa tahun ke depan.

Pada tahun berjalan di 2026 ini, fokus kegiatan akan diarahkan pada pelaksanaan pengayaan stok biota perikanan bernilai ekologis dan ekonomis, sebagai upaya memperkuat fungsi produktivitas perairan di sekitar Pulau Bonetambung.

Selain itu, kolaborasi ini juga akan menginisiasi tahapan awal pembangunan platform marine ranching, yang dirancang sebagai sistem pengelolaan perairan berbasis ekosistem untuk mendukung keberlanjutan sumber daya laut.

Inisiasi tersebut akan didahului oleh peninjauan dan kajian lokasi secara lebih mendalam, mencakup aspek oseanografi, ekologi, dan sosial, guna memastikan kesesuaian dan efektivitas implementasi.

’’Sejalan dengan itu, kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap AR yang telah ditempatkan akan terus dilakukan secara berkala dan terstruktur untuk menilai perkembangan ekologis, efektivitas fungsi habitat, serta menjadi dasar bagi pengambilan keputusan dan manajemen adaptif pada tahap-tahap pengembangan selanjutnya’’, jelas Dosen Mata Kuliah Konservasi Terumbu Karang Unhas itu. (*)

Comment