Dunia Terancam Krisis Energi: Iran Ancam Blokade Total Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz (Sumber: bbc.com)

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Iran mengeluarkan ancaman keras untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Langkah ini diambil menyusul eskalasi serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran, yang kini memicu kekhawatiran akan terjadinya guncangan ekonomi global secara masif.

Pernyataan Keras Teheran

Jenderal Sardar Jabbari dari militer Iran menegaskan bahwa pihaknya siap mengambil tindakan ekstrem untuk melindungi kedaulatan mereka. “Kami tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut,” tegasnya, dikutip dari bbc.com.

Ancaman untuk “membakar” kapal-kapal yang nekat melintas telah membuat pasar energi dunia bergejolak. Selama ini, Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas global. Penutupan jalur sempit ini diprediksi akan melambungkan harga energi dan memicu inflasi harga barang di seluruh dunia.

Urat Nadi Ekonomi Global yang Tercekik

Secara geografis, Selat Hormuz adalah koridor sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Terletak di antara utara Iran dan selatan Oman, jalur ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya.

Meskipun sempit, jalur ini adalah jalur hidup bagi ekonomi banyak negara:

  • Nilai Perdagangan: Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutkan hampir US$600 miliar (Rp10,1 triliun) nilai energi melintas di sini setiap tahunnya.

  • Volume Harian: Per 2025, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari, berasal dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan UEA.

  • Ketergantungan Asia: Sekitar 82% minyak yang melintasi selat ini ditujukan untuk pasar Asia, dengan China sebagai pembeli utama (90% dari ekspor Iran).

Dampak Nyata: Harga Minyak dan Biaya Logistik Meroket

Meski blokade fisik belum sepenuhnya terjadi, “blokade psikologis” telah mulai melumpuhkan perdagangan. Analis utama Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, menyatakan bahwa ancaman serangan drone dan rudal membuat perusahaan asuransi enggan memberikan jaminan pada kapal tanker.

“Secara de facto, selat tersebut tertutup karena tidak ada yang berani melintas,” ujar Rasmussen.

Dampaknya sudah terasa di pasar:

  1. Harga Minyak: Minyak mentah Brent telah menyentuh angka US$82 (Rp1,38 juta) per barel pada Senin (02/03).

  2. Biaya Angkut: Biaya sewa kapal tanker raksasa ke China naik dua kali lipat menjadi lebih dari US$400.000 (Rp6,74 miliar), sebuah rekor tertinggi sejarah.

  3. Kemacetan Maritim: Sekitar 150 kapal tanker saat ini tertahan di sekitar perairan tersebut menunggu kepastian keamanan.

Skenario Militer dan Rute Alternatif

Para ahli militer menyebut Iran memiliki kemampuan untuk menanam ranjau laut dan menggunakan kapal cepat serta kapal selam untuk mengganggu lalu lintas laut. Namun, langkah ini berisiko memicu intervensi militer langsung dari AS. Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan kesiapan militer AS untuk menghancurkan kekuatan laut Iran demi menjaga aliran minyak.

Di sisi lain, upaya mencari jalur alternatif melalui pipa darat di Arab Saudi dan UEA dinilai belum mencukupi. Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup total, dunia tetap akan kehilangan pasokan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari, sebuah lubang pasokan yang tidak mungkin ditutupi oleh infrastruktur saat ini.

Kini, mata dunia tertuju pada Teluk Persia. Jika diplomasi gagal meredam ketegangan, krisis energi yang jauh lebih parah dari dekade 1980-an mungkin akan segera menjadi kenyataan. (*)

Comment