MENITNEWS.COM, JAKARTA — Dunia kini berada di ambang krisis pangan hebat. World Food Programme (WFP) mengeluarkan peringatan serius bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, berpotensi mendorong 45 juta orang tambahan ke jurang kelaparan akut pada pertengahan tahun 2026.
Ancaman ini muncul seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia di atas US$100 per barel dan terganggunya jalur logistik global.
Jika tren ini berlanjut, jumlah penduduk dunia yang mengalami kerawanan pangan total bisa menembus angka 363 juta jiwa, melampaui rekor saat awal Perang Rusia-Ukraina pada 2022 lalu.
Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menjelaskan bahwa meskipun konflik berpusat di kawasan energi dan bukan lumbung pangan, dampaknya terhadap perut warga dunia tetap instan.
Kenaikan harga bahan bakar, otomatis memicu lonjakan biaya produksi pupuk dan distribusi logistik.
”Jika konflik terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia. Keluarga yang saat ini sudah kesulitan akan menghadapi tekanan paling berat,” ujar Skau dalam keterangan resminya, Minggu (22/3/2026).
Gangguan di titik nadi perdagangan dunia, seperti Selat Hormuz dan Laut Merah, menyebabkan biaya pengiriman meroket.
Kondisi ini sangat memukul wilayah Afrika Sub-Sahara dan Asia, yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor pangan.
Kontras Kondisi: Indonesia Surplus Beras
Di tengah awan mendung pangan global, Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup stabil.
Berdasarkan data terbaru, pemerintah mengonfirmasi bahwa Indonesia saat ini mengalami surplus beras.
Capaian ini menjadi bantalan penting bagi ekonomi nasional di tengah ancaman inflasi pangan global yang menghantui negara-negara berkembang lainnya.
Kondisi surplus ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di pasar domestik, meskipun pemerintah tetap harus waspada terhadap kenaikan harga komoditas pendukung seperti pupuk yang masih bergantung pada rantai pasok global.
Analisis WFP menunjukkan proyeksi peningkatan kerawanan pangan yang mengkhawatirkan di beberapa wilayah:
Asia: Diperkirakan melonjak hingga 24%.
Afrika Barat & Tengah: Meningkat sekitar 21%.
Afrika Timur & Selatan: Meningkat sekitar 17%.
Di Sudan dan Somalia, harga komoditas pokok bahkan telah melonjak lebih dari 20% sejak konflik memanas.
WFP saat ini terus berupaya menyalurkan bantuan darurat di Lebanon, Suriah, dan Iran, meski terkendala oleh keterbatasan dana bantuan internasional yang kian menipis.
Dunia kini menanti langkah diplomasi global WFP untuk meredam konflik, mengingat ketahanan pangan jutaan nyawa sangat bergantung pada stabilitas harga energi dan kelancaran jalur maritim internasional. (*)
Comment