Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar Paparkan Strategi Vaksin Modern dan Penanganan GBS di Harvard Medical School

ads
ads

MENITNEWS.COM, ​BOSTON — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, kembali memperkuat posisi Indonesia di panggung kesehatan internasional.

Ia memenuhi undangan prestisius dari Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear, Department of Ophthalmology di Harvard Medical School, Boston, Amerika Serikat, untuk menjadi pembicara dalam forum akademik global pada Senin-Selasa, 30–31 Maret 2026.

​Dalam forum ilmiah tersebut, Taruna Ikrar, mempresentasikan materi strategis bertajuk “Global Burden of GBS Diseases & Vaccine Platforms Challenges”.

Paparan ini menyoroti kompleksitas beban penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS), serta tantangan teknis dalam pengembangan platform vaksin masa depan.

​Undangan yang disampaikan langsung oleh Associate Professor Harvard Medical School, Joseph F. Arboleda-Velasquez ini, menjadi ajang bagi Taruna untuk mengangkat dua isu krusial:

​Beban Global GBS: Taruna menjelaskan bahwa meskipun GBS merupakan gangguan saraf langka, dampaknya sangat fatal karena dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian, serta memerlukan biaya perawatan intensif yang tinggi bagi sistem kesehatan negara.

​Transformasi Platform Vaksin: Ia membedah tantangan teknologi vaksin modern seperti mRNA, viral vector, dan protein subunit.

Kepala BPOM RI, Taruna iKrar, menekankan bahwa, inovasi cepat harus dibarengi dengan penguatan aspek keamanan jangka panjang dan distribusi yang merata untuk menjaga kepercayaan publik.

​”Regulator tidak lagi hanya menjadi penjaga gerbang (gatekeeper), tetapi harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik secara simultan,” tegas Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/3/2026).

Reputasi Internasional dan Peran Strategis BPOM

​Kehadiran Taruna di Harvard bukan sekadar partisipasi akademik, melainkan simbol pengakuan dunia atas kapasitas keilmuan Indonesia.

Sebagai pimpinan lembaga regulator yang telah meraih status WHO Listed Authority (WLA), Taruna menegaskan bahwa BPOM kini berperan sebagai aktor strategis dalam ekosistem kesehatan global.

​“Ini adalah bentuk pengakuan atas keahlian dan kepakaran yang saya miliki, sekaligus menjadi kebanggaan bagi lembaga negara di Indonesia,” jelasnya.

​Keterlibatan aktif ini menandai pergeseran posisi Indonesia dari sekadar objek kebijakan, menjadi kontributor aktif dalam menentukan arah wacana kesehatan dunia.

Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia dinilai perlu memiliki sistem regulasi yang adaptif dan berbasis sains (science-based policy) agar mampu menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

Melalui forum di Harvard ini, BPOM RI berharap tercipta peluang kolaborasi riset dan industri farmasi lintas negara, guna memperkuat kapasitas nasional Indonesia di mata dunia. (*)

Comment