Kerja Sama Global, KKSS Gandeng Investor Korea Selatan Garap Hilirisasi Kopi Sulawesi Selatan

ads
ads

MENITNEWS.COM, ​MAKASSAR — Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI 2026, tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Namun, ada juga tindak lanjut bisnis khususnya produk kopi Sulawesi Selatan.

PSBM XXVI 2026, juga menjadi mesin penggerak ekonomi nyata. Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) resmi menyepakati kerja sama strategis dengan perusahaan asal Korea Selatan, HOABEE Co. Ltd, untuk memperkuat hilirisasi kopi dan investasi UMKM di Sulawesi Selatan.

​Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tersebut dilakukan di Hotel Claro, Makassar, baru-baru ini.

Langkah ini menandai kolaborasi lintas negara yang menghubungkan investor global, organisasi masyarakat, dan kelompok tani lokal dalam satu rantai nilai (value chain) yang terintegrasi.

​Fokus utama dari kesepakatan ini adalah membangun ekosistem usaha dari hulu hingga hilir. Kerja sama mencakup empat pilar utama:

​Pelatihan dan Pengembangan Kapasitas: Meningkatkan keahlian petani dalam mengolah hasil panen.

​Trading (Perdagangan): Membuka akses pasar internasional bagi produk kopi lokal.

​Investasi Permodalan: Suntikan dana untuk memperkuat daya saing UMKM.

​Hilirisasi: Transformasi bahan mentah kopi menjadi produk bernilai tambah tinggi.

​Ketua Satgas Ekonomi KKSS, H. Mashur Bin Mohd. Alias, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah langkah konkret untuk memajukan ekonomi kerakyatan.

​”Melalui sinergi antara investor internasional dan pelaku usaha lokal, kami berharap program ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” ujar Mashur, yang juga menjabat sebagai Ketua Kebugis.

​Dalam prosesi tersebut, BPP KKSS bertindak sebagai fasilitator, sementara Song Dae Ho selaku CEO HOABEE Co. Ltd berperan sebagai investor sekaligus pembeli siaga (off-taker) produk kopi Sulsel.

​Dari sisi produsen, kelompok petani kopi dan pelaku UMKM Sulawesi Selatan diwakili oleh Andi Cahyadin asal Kabupaten Pinrang.

Keterlibatan langsung perwakilan petani ini menjamin bahwa, investasi yang masuk akan menyentuh akar rumput dan menjawab tantangan kontinuitas produksi di lapangan.

​Selain penguatan modal, kerja sama ini diproyeksikan menjadi “karpet merah” bagi kopi Sulawesi Selatan, untuk menembus pasar dunia, khususnya Korea Selatan yang memiliki tingkat konsumsi kopi sangat tinggi.

​Dengan sistem perdagangan yang berkelanjutan, para petani kini tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas standar ekspor guna memastikan nilai tawar produk kopi Sulsel tetap unggul di kancah global. (*)

Comment