MENITNEWS.COM, JAKARTA – Perundingan damai bersejarah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa kesepakatan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik pedas dengan menyebut pihak Washington bersikap keras kepala dan tidak konsisten selama proses negosiasi berlangsung.
Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (13/4), Araghchi mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai AS telah menerapkan sikap maksimalis dan terus mengubah target kesepakatan di saat perundingan hampir mencapai titik temu.
“Dalam pembicaraan intensif tingkat tertinggi dalam 47 tahun terakhir, Iran terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hanya tinggal beberapa inci dari ‘MoU Islamabad’, kami justru menghadapi perubahan target dan blokade,” tulis Araghchi.
Ia pun menambahkan pesan menohok, “Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik melahirkan niat baik, permusuhan melahirkan permusuhan.”
Diplomasi Maraton 21 Jam
Perundingan yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu pagi (12/4) tersebut menjadi sorotan dunia karena merupakan pertemuan tatap muka perdana kedua negara sejak Revolusi Islam 1979. Pertemuan yang dimediasi oleh Pakistan ini berlangsung selama 21 jam nonstop sebelum akhirnya dinyatakan gagal.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan pembelaan dari sisi Washington. Menurutnya, mandat pembicaraan terhenti karena Teheran menolak tuntutan krusial dari AS.
“Mandeknya pembicaraan terjadi karena Iran menolak permintaan Washington, salah satunya terkait penghentian seluruh program nuklir Teheran,” ujar Vance dalam keterangan resminya.
Tarik Ulur Kepentingan: Nuklir vs Aset Qatar
Namun, klaim berbeda muncul dari internal tim negosiasi Iran. Seorang sumber menyebut bahwa AS sebenarnya hanya mencari-cari alasan untuk meninggalkan meja perundingan dengan cara tidak memenuhi syarat-syarat yang telah diajukan sebelumnya.
Sebelum meja perundingan dibuka, Iran disebut membawa daftar tuntutan yang cukup berat, antara lain:
-
Pencairan Aset: Pembebasan miliaran dolar aset Teheran yang dibekukan di Qatar dan bank-bank asing.
-
Kedaulatan Maritim: Kendali penuh atas Selat Hormuz, termasuk rencana pemungutan biaya transit bagi kapal yang melintas.
-
Ganti Rugi: Tuntutan ganti rugi perang.
-
Stabilitas Kawasan: Gencatan senjata menyeluruh di seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Meskipun sumber senior Iran mengeklaim bahwa AS awalnya telah setuju untuk mencairkan aset di Qatar, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perbedaan ideologi dan kepentingan strategis masih terlalu besar untuk dijembatani dalam satu kali pertemuan. Kegagalan ini pun kembali memperpanjang ketegangan diplomatik antara kedua negara di panggung global. (*)
Comment