MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperkuat komitmennya, dalam mewujudkan tata kelola Perguruan Tinggi yang transparan dan akuntabel.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc (Prof JJ) menegaskan bahwa pembangunan Zona Integritas (ZI) di lingkungan kampus, tidak boleh hanya dipandang sebagai pemenuhan dokumen administratif.
Melainkan harus meresap menjadi “DNA” institusi.
Hal tersebut disampaikan Prof JJ, sapaan akrabnya, dalam acara Sosialisasi Penguatan Zona Integritas (ZI) yang berlangsung di Ruang Senat, Gedung Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea, Senin (13/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).
Dalam arahannya, Prof JJ menyoroti kecenderungan institusi yang seringkali terjebak pada pemenuhan indikator penilaian semata.
Bagi Unhas, ZI seharusnya menjadi sumber semangat yang hidup dalam praktik sehari-hari seluruh sivitas akademika.
”Integritas tidak boleh hanya terlihat di atas kertas. Ia harus menjadi DNA kita; sesuatu yang mungkin tidak kasat mata, namun dampaknya terasa nyata dalam setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil,” ujar Prof JJ, di hadapan seluruh pimpinan unit kerja.
Lebih lanjut, Rektor Unhas menekankan bahwa keberhasilan transformasi budaya ini sangat bergantung pada komitmen para pimpinan di setiap unit kerja.

Menurut Rektor Unhas, integritas adalah nilai yang harus ditularkan melalui keteladanan, bukan sekadar instruksi.
”Integritas tidak bisa hanya diatur dengan regulasi, tetapi harus dicontohkan. Pimpinan harus menjadi role model untuk membangun kepercayaan dan konsistensi di unit kerja masing-masing,” tegasnya.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, Unhas telah melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya:
Penyusunan SOP: Standar Operasional Prosedur dibuat lebih rinci untuk menutup celah penyimpangan.
Penguatan Mekanisme Pelaporan: Menciptakan sistem yang adil dan transparan bagi seluruh pihak.
Pembenahan Pola Pikir (Mindset): Melakukan pendekatan persuasif agar setiap individu merasa memiliki tanggung jawab moral.
Prof JJ menambahkan bahwa, mekanisme pelaporan di Unhas kini dikembangkan sebagai bagian dari budaya saling mengingatkan.
Bukan sekadar alat kontrol. Hal ini dilakukan demi menjaga kepercayaan publik terhadap Unhas sebagai lembaga pendidikan tinggi yang kredibel.
Selain Rektor Unhas, kegiatan sosialisasi ini diikuti dengan antusias oleh seluruh jajaran pimpinan unit kerja Unhas, menandakan kesiapan kolektif dalam mengawal Unhas menuju wilayah bebas korupsi dan birokrasi yang bersih melayani. (*)
Comment