Menakar Peluang Prof. Budu: Strategi “Running Mate” Tanpa Wakil di Pilrek Unhas 2026

ads
ads

Oleh : Gani Dg Mattari (Menitnews.com)

Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 kembali memunculkan nama Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.MedEd, sebagai salah satu kandidat terkuat.

Setelah sebelumnya bertarung pada Pilrek 2022 lalu, kehadiran beliau kali ini bukan sekadar “pengulangan”, melainkan sebuah upaya rekonsolidasi kekuatan yang menarik untuk dianalisis.

​Pemilihan Rektor Unhas bukan sekadar ajang adu popularitas, melainkan pertempuran gagasan dan pengaruh di tingkat Senat Akademik (SA) serta Majelis Wali Amanat (MWA).

Prof. Budu, yang saat ini menjabat sebagai Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, membawa modalitas yang cukup signifikan untuk menggoyang status quo.

​1. Modalitas Suara: Kekuatan di Senat Akademik

​Data terbaru dari proses penyaringan di Senat Akademik pada 3 November 2025 menunjukkan posisi Prof. Budu yang kokoh di urutan kedua. Dari 93 anggota Senat Akademik yang hadir: Prof. Jamaluddin Jompa (Incumbent): 74 suara (80%), Prof. Budu: 18 suara (19%), dan Prof. Sukardi Weda: 1 suara (1%).

​Meskipun selisih angka dengan petahana cukup jauh, angka 19% ini bukanlah angka yang bisa disepelekan. Ini menunjukkan adanya basis massa loyal di tingkat Senat yang menginginkan figur alternatif di luar kepemimpinan saat ini.

​2. Rekam Jejak dan “Internasionalisasi”

​Prof. Budu dikenal memiliki jaringan internasional yang luas, khususnya di bidang kedokteran mata. Penghargaan Distinguished Service Award di Bangkok (2019) dan aktifnya beliau dalam forum kesehatan Asia menjadi bukti kapasitas globalnya.

Dalam visinya, Prof. Budu menekankan pembangunan Unhas secara eksponensial, sebuah kata kunci yang menyasar pada percepatan kualitas riset dan daya saing lulusan di kancah dunia.

​3. Dukungan Eks-Pejabat dan Lintas Fakultas

​Saat pendaftaran pada Agustus 2025, Prof. Budu didampingi oleh sejumlah tokoh kunci, seperti Prof. Yusran Yusuf (Sekjen IKA Unhas) dan beberapa mantan dekan dari FISIP, Peternakan, hingga Kedokteran.

Dukungan lintas Fakultas ini menunjukkan bahwa figur Prof. Budu diterima secara inklusif, tidak hanya eksklusif di rumpun kesehatan.

​Analisis Peluang: Tantangan dan Harapan

Kekuatan: Pengalaman sebagai Dekan FK dan Sekolah Pascasarjana; Basis massa loyal di Senat Akademik.

Kelemahan: Menghadapi petahana (Prof. JJ) yang memiliki kontrol kebijakan dan dukungan mayoritas mutlak di Senat (80%).

Peluang: Lobi-lobi di Tingkat Majelis Wali Amanat (MWA) yang memiliki bobot suara 35% dari unsur Kementerian dan Tokoh Masyarakat.

Ancaman: Soliditas suara petahana yang sulit ditembus jika tidak ada isu perubahan yang sangat mendesak.

Peluang Prof. Budu sangat bergantung pada kemampuannya meyakinkan Majelis Wali Amanat (MWA) pada pemilihan final yang dijadwalkan pada 14 Januari 2026 mendatang.

Jika dia mampu menawarkan “kontrak politik akademis” yang lebih visioner dibandingkan petahana kepada anggota MWA—terutama unsur Pemerintah dan Masyarakat—bukan tidak mungkin peta suara 19% di Senat akan berlipat ganda di Tingkat MWA.

​Secara objektif, Prof. Budu adalah penantang paling kredibel saat ini. Kemenangannya akan bergantung pada sejauh mana para pemegang hak suara melihat kebutuhan akan “penyegaran” kepemimpinan di Unhas.

Salah satu faktor yang bisa membuat Prof Budu dapat memenangkan Pemilihan Rektor Unhas nanti, karena kabarnya Dokter Senior tersebut mendapat dukungan mayoritas langsung dari Pusat. Menarik dinantikan! (*)

Comment