MENITNEWS.COM, MAROS — Kabupaten Maros tengah melakukan lompatan besar, dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui semangat Butta Salewangang yang berarti tanah yang membawa kemakmuran, Pemerintah Kabupaten Maros, secara agresif mempercepat penurunan angka stunting.
Langkah ini bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan upaya nyata menyelamatkan masa depan 3.700 balita yang saat ini masih masuk dalam kategori stunting.
Bupati Maros, HAS Chaidir Syam, menegaskan bahwa penanganan stunting adalah prioritas utama dalam masa kepemimpinannya. Komitmen tersebut dibuktikan dengan alokasi anggaran yang fantastis.
Tak tanggung-tanggung, Pemkab Maros mengucurkan dana sebesar Rp60 miliar atau sekitar 4 persen dari total APBD 2025 khusus untuk program intervensi gizi dan kesehatan.
”Stunting bukan hanya masalah pertumbuhan fisik, tapi soal masa depan kecerdasan anak-anak kita. Anggaran Rp60 miliar ini adalah investasi. Kita tidak boleh pelit untuk urusan kesehatan generasi penerus, karena merekalah yang akan membangun Maros di masa depan,” ujar Chaidir Syam dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).
Loncatan Drastis Dalam Dua Tahun
Data menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Pada tahun 2023 lalu, angka prevalensi stunting di Maros berada pada level yang cukup mengkhawatirkan, yakni 34,7%. Namun, melalui kerja keras lintas sektoral, angka tersebut berhasil ditekan hingga ke posisi 22,4% pada tahun 2025.
Penurunan sebesar 12,3% ini, menempatkan Kabupaten Maros jauh di bawah rata-rata angka prevalensi Provinsi Sulawesi Selatan yang tercatat sebesar 23%.
“Kami melihat penurunan ini sebagai bukti bahwa kerja kolaboratif di lapangan membuahkan hasil. Namun, angka 22,4 persen bukanlah garis finis. Kami merasa terpacu untuk terus bekerja lebih keras karena target Nasional sebesar 19,8 persen sudah di depan mata,” papar Chaidir.
Strategi Hulu ke Hilir: Dari Konseling Hingga Meja Makan
Keberhasilan Maros tak lepas dari strategi komprehensif yang menyentuh akar permasalahan. Di sektor hilir, intervensi dilakukan langsung melalui Tim Penggerak PKK, Kader Posyandu, dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Mereka memastikan pemberian makanan tambahan dengan menu gizi seimbang sampai ke tangan keluarga rawan stunting.
Di sektor hulu, Pemkab Maros melakukan langkah preventif yang berani dengan menekan angka pernikahan dini. Remaja dan calon pengantin di bawah usia 19 tahun diberikan konseling rutin untuk memahami risiko kesehatan reproduksi dan kesiapan mengasuh anak.
”Kami ingin memutus rantai stunting sejak dari pikiran. Calon pengantin harus paham bahwa kesiapan fisik dan mental adalah kunci. Jangan sampai mereka menikah namun belum siap memberikan asupan terbaik bagi anaknya kelak,” pesan Chaidir.
Ajakan Kolaborasi Seluruh Pihak
Bupati Chaidir Syam menyadari bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat desa hingga tokoh agama, untuk menjadikan penanganan stunting sebagai gerakan bersama.
”Ini adalah panggilan kemanusiaan. Saya ingin semua pihak di Butta Salewangang ini bersatu. Kita pastikan tidak ada lagi anak-anak kita yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh maksimal hanya karena kurang gizi atau kurangnya edukasi,” pungkasnya. (*)
Comment