Gen Z Indonesia Tinggalkan Alkohol, Beralih ke Kopi dan Matcha demi Produktivitas

Ilustrasi Kafe

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Fenomena nongkrong di kedai kopi kini bukan sekadar tren sesaat, melainkan identitas baru bagi Generasi Z (Gen Z) di Indonesia. Aktivitas “ngopi” telah bertransformasi menjadi ruang sosial sekaligus simbol perlawanan terhadap budaya konsumsi alkohol yang kian merosot di kalangan anak muda.

Tren Konsumsi Alkohol Terus Menurun

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, konsumsi alkohol penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mencatatkan angka terendah dalam beberapa tahun terakhir, yaitu hanya 0,30 liter per kapita. Penurunan ini memperpanjang tren konsisten yang terjadi sejak 2023.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa meskipun konsumsi di wilayah pedesaan secara angka masih lebih tinggi dibanding perkotaan, laju penurunannya justru jauh lebih drastis. Di pedesaan, angka konsumsi turun 0,08 liter per kapita sepanjang 2024–2025, sementara di perkotaan hanya terkoreksi 0,01 liter.

Pergeseran Gaya Hidup: Sehat dan Hemat

Survei State of Beverages mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen Gen Z kini lebih memilih minuman non-alkohol saat bersosialisasi. Bahkan, sekitar 45 persen dari mereka memilih menjadi abstemius atau tidak menyentuh alkohol sama sekali.

Bagi mahasiswa seperti Aprilan (22), pilihan ini didasari oleh pertimbangan logis dan finansial. “Dengan Rp20–30 ribu, saya sudah bisa nongkrong lama di kafe dengan fasilitas Wi-Fi gratis. Kalau alkohol, sekali minum jauh lebih mahal dan belum tentu bikin produktif,” ujarnya saat ditemui di Malang, Sabtu (17/1/2026).

Kopi dan Matcha Jadi Primadona Baru

Data industri menunjukkan lonjakan tajam pada minuman alternatif. Survei Jakpat mencatat 66 persen Gen Z di Indonesia adalah pengonsumsi kopi rutin. Tak hanya kopi, laporan Restaurant Business juga menyoroti popularitas matcha yang dipesan oleh 40 persen Gen Z dalam enam bulan terakhir.

Menurut penelitian King Faisal University, alasan utama anak muda memilih kopi adalah untuk meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Kafein dianggap sebagai “bahan bakar” penting untuk menjaga fokus di tengah tekanan aktivitas yang tinggi.

Kafe sebagai “Ruang Ketiga”

Dosen pemerhati gaya hidup mahasiswa Universitas Jambi, Baiq Annisa Yulfana, M.A., menilai bahwa kedai kopi telah menjadi “ruang ketiga” bagi mahasiswa setelah rumah dan kampus.

“Kafe menawarkan suasana fleksibel untuk berdiskusi hingga bekerja mandiri. Fungsi produktivitas ini sulit ditemukan dalam budaya konsumsi alkohol,” jelas Baiq Annisa. Ia juga menambahkan bahwa aksesibilitas kedai kopi yang menjamur di sekitar area kampus membuat kopi lebih relevan sebagai medium sosialisasi dibandingkan diskotik atau bar.

Kesimpulan: Menuju Generasi Sadar Diri

Pergeseran ini menandakan perubahan nilai yang mendalam di masyarakat. Gen Z tidak sekadar mengganti jenis minuman, tetapi juga mendefinisikan ulang cara mereka berinteraksi.

Jika generasi sebelumnya sering mengaitkan alkohol dengan simbol kedewasaan, Gen Z justru melihat kopi dan matcha sebagai representasi gaya hidup yang lebih reflektif, sehat, dan sadar akan masa depan.

Comment