Bukan Lagi “Emak-Emak”, Demam Drama China Kini Sasar Bapak-Bapak di Media Sosial

Ilustrasi (Foto: Google)

ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Selama ini, konsumsi drama romantis identik dengan kaum perempuan atau ibu-ibu. Namun, pemandangan berbeda tampak belakangan ini. Fenomena Drama China (Dracin) berdurasi pendek mulai menjangkiti kaum pria, terutama kalangan bapak-bapak, yang kini kedapatan asyik “scrolling” layar ponsel demi mengikuti kelanjutan cerita.

Media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, hingga Facebook Watch menjadi pintu masuk utama. Algoritma media sosial yang masif menyuguhkan potongan-potongan video pendek membuat banyak orang—tanpa memandang gender—terjebak dalam rasa penasaran yang berujung ketagihan.

Daya Tarik “CEO yang Menyamar”

Salah satu daya tarik utama yang membuat bapak-bapak betah menonton adalah formula cerita yang khas dan repetitif namun memuaskan. Tema “CEO yang menyamar menjadi orang miskin” atau “Menantu yang dihina ternyata sultan” menjadi primadona.

Menurut pengamat tren media sosial, alur cerita ini memberikan efek gratifikasi instan. Penonton dibuat gemas dengan ketertindasan sang tokoh utama di awal cerita, lalu merasa puas saat identitas aslinya terungkap dan ia membalas dendam kepada mereka yang meremehkannya.

“Awalnya cuma lewat di beranda, eh kok seru. Penasaran lihat bos nyamar jadi kurir makanan tapi dihina-hina. Pas identitasnya kebongkar, rasanya puas banget. Tahu-tahu sudah nonton sampai puluhan episode,” ujar Dayat (43), salah satu warga yang mengaku mulai rutin menonton Dracin di sela waktu istirahatnya.

Mengapa Dracin Begitu Adiktif?

Setidaknya ada tiga alasan mengapa Dracin format pendek ini begitu menyita perhatian:

  • Durasi Singkat: Setiap episode biasanya hanya berdurasi 1 hingga 2 menit, cocok dengan rentang perhatian (attention span) pengguna media sosial saat ini.

  • Konflik Padat: Tidak seperti sinetron atau drama konvensional yang bertele-tele, Dracin langsung menyuguhkan konflik utama sejak detik pertama.

  • Akses Mudah: Tidak perlu berlangganan platform streaming mahal; potongan-potongan cerita ini tersebar gratis di berbagai platform video pendek.

Dampak di Masyarakat

Meskipun menghibur, fenomena ini juga menjadi pengingat akan kuatnya pengaruh algoritma. Rasa penasaran yang terus dipupuk oleh akhir cerita yang menggantung (cliffhanger) di setiap episode pendek membuat banyak orang sulit berhenti menonton (binge-watching).

Fenomena ini membuktikan bahwa selera hiburan bapak-bapak kini mulai bergeser. Jika dulu televisi didominasi oleh berita atau olahraga, kini layar ponsel mereka dipenuhi oleh kisah-kisah romansa dan aksi balas dendam dari Negeri Tirai Bambu. (*)

Comment