MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Tragedi jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, memanggil jiwa kemanusiaan Abdul Haris Agam atau lebih dikenal dengan Agam Rinjani.
Relawan penyelamat yang dikenal luas publik sebagai Agam Rinjani ini, memutuskan segera “pulang kampung” ke Makassar guna memperkuat tim pencarian dan pertolongan (SAR).
Nama Agam Rinjani sebelumnya sempat viral setelah aksi heroiknya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil di medan berat Gunung Rinjani.
Kini, keahlian spesifiknya sangat dibutuhkan untuk menaklukkan tebing curam Bulusaraung.
Di balik sosoknya yang sederhana, Agam adalah salah satu relawan kemanusiaan paling berpengalaman di medan ekstrem Indonesia. Berikut profil singkatnya:
Nama Lengkap: Abdul Haris Agam. Afiliasi Utama: Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas).
Spesialisasi: Vertical Rescue (Penyelamatan di medan tegak lurus/tebing) dan Manajemen SAR.
Aksi Viral: Menjadi tokoh kunci dalam evakuasi jenazah Juliana Marins (pendaki asal Brasil) di Gunung Rinjani yang memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi.
Rekam Jejak: Aktif dalam berbagai bencana nasional, mulai dari gempa bumi, banjir bandang di Aceh, hingga operasi pencarian orang hilang di pegunungan Sulawesi dan NTB.
Bawa Peralatan Khusus dari Jakarta
Baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan banjir bandang di Aceh, Agam Rinjani langsung bersiap terbang dari Jakarta menuju Makassar pada Selasa (20/1/2026).
Agam Rinjani didampingi asisten setianya, Fadilla Kribo, yang bertanggung jawab memastikan seluruh peralatan teknis dalam kondisi siap tempur.
”Saat ini persiapan berangkat dari Jakarta ke Makassar. Saya menyiapkan beberapa perlengkapan khusus, seperti tali karmantel dan alat pendukung lainnya,” ujar Agam, pada Selasa, 20 Januari 2026.
Menaklukkan Tebing “Maut” Bulusaraung
Gunung Bulusaraung (1.353 mdpl) bukan sekadar perbukitan biasa. Karakter medannya didominasi oleh tebing-tebing karst yang vertikal.
Agam menjelaskan bahwa proses evakuasi Pesawat ATR 42-500 ini mutlak memerlukan teknik Vertical Rescue.
”Medan Bulusaraung penuh tebing curam. Sebagai Alumni Korpala Unhas, saya cukup mengenal karakter batuan di sana. Kami akan langsung melakukan asesmen ke Basarnas setibanya di lokasi,” tuturnya.
Hingga saat ini, upaya evakuasi masih menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Untuk mempercepat proses, Tim SAR kini membagi kekuatan:
Sektor Pangkep: Penyisiran melalui wilayah Tompobulu, Kecamatan Balocci.
Sektor Maros: Pembukaan jalur alternatif melalui Hutan Pendidikan Unhas di Desa Limapoccoe, Kecamatan Cenrana.
Upaya ini difokuskan untuk mempercepat pergeseran korban menuju Posko Post Mortem di RS Bhayangkara Makassar, guna proses identifikasi oleh Tim DVI Polda Sulsel. Selamat bertugas Agam Rinjani! (*)
Comment