MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Ketua Harian Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Prof. Andi M. Syakir, menegaskan bahwa peningkatan jumlah pengusaha (saudagar) merupakan kunci utama untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam rangkaian Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI 2026 di Hotel Claro, Kota Makassar.
Prof. Syakir mengungkapkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam rasio jumlah pengusaha per kapita dibandingkan negara-negara maju.
Menurutnya, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, dibutuhkan akselerasi ekonomi yang digerakkan oleh para pelaku usaha yang tangguh dan berdaya saing global.
“Negara maju selalu ditopang oleh kekuatan pendidikan dan ekonomi. Untuk ekonomi yang tangguh, kita butuh lebih banyak penggerak, yakni saudagar-saudagar yang kuat,” ujar Prof. Syakir, Kamis (26/3/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa profil pengusaha yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar mengejar profit semata, melainkan memiliki idealisme kebangsaan.
“Harus ada ‘Merah Putih’ di dadanya. Orientasinya bukan hanya keuntungan, tetapi bagaimana memberikan kontribusi nyata bagi kedaulatan Bangsa di tengah dinamika geopolitik global,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang fokus pada kemandirian pangan.
Ia secara khusus memuji peran Ketua Umum KKSS, Andi Amran Sulaiman, dalam menginisiasi program swasembada pangan berbasis inovasi teknologi dan pendekatan ilmiah.
Langkah Strategis KKSS: Satgas Pendidikan dan Ekonomi
Sebagai bentuk aksi nyata, KKSS telah membentuk dua satuan tugas (satgas) strategis yang fokus pada bidang pendidikan dan ekonomi.
Langkah ini diambil untuk memastikan warga Sulawesi Selatan, khususnya generasi muda, mampu menjawab tantangan ekonomi global.
Prof. Syakir menyebutkan masyarakat Sulawesi Selatan sejatinya memiliki “gen saudagar” yang kuat.
Namun, potensi genetik tersebut harus didukung oleh ekosistem yang kondusif.
“Ketangguhan tidak hanya ditentukan faktor genetik, tapi juga lingkungan. Forum PSBM 2026 ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk membangun ekosistem bisnis dan memperkuat jejaring strategis,” jelasnya.
Fokus Pada Aksi Nyata dan Kepedulian Sosial
PSBM XXVI 2026 kali ini dirancang untuk menghasilkan output yang konkret. Selain pertemuan bisnis untuk membangun kemitraan, kegiatan ini juga diisi dengan program aksi sosial sebagai bentuk keseimbangan antara kualitas vertikal (bisnis) dan horizontal (kepedulian masyarakat).
Di akhir pernyataannya, Prof. Syakir mengajak seluruh pihak untuk memperkuat konsolidasi lewat PSBM XXVI 2026.
Ia meyakini bahwa persatuan dan kohesi yang kuat antarpengusaha di PSBM XXVI 2026, akan menjadi fondasi kokoh bagi kekuatan ekonomi nasional di masa depan. (*)
Comment