Manchester United Era Michael Carrick: Kembali ke UCL di Tengah Kontroversi Wasit dan Perpisahan Casemiro

Matheus Cunha dari Manchester United merayakan golnya setelah disahkan menyusul pemeriksaan VAR yang panjang terkait dugaan handball yang dilakukan Bryan Mbeumo. (Sumber: The Guardian/ Foto: Martin Rickett/PA

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, JAKARTA – Era baru Michael Carrick di Manchester United terus dinaungi dewi fortuna. Lewat keputusan wasit yang kontroversial, United sukses menumbangkan Nottingham Forest di Old Trafford. Di hari yang sama, Bruno Fernandes berhasil menyamai rekor assist terbanyak dalam satu musim Premier League.

Jika bukan karena kebuntuan manajemen United dalam mencari manajer baru empat bulan lalu, Carrick mungkin tidak akan berada di sini. Namun kini, ia sukses menjamin posisi ketiga di klasemen akhir sekaligus membawa Setan Merah kembali ke panggung Liga Champions.

Ironisnya, setahun lalu United sempat berniat menjual Bruno Fernandes. Kini, sang kapten justru berdiri sejajar dengan para pelayan terbaik dalam sejarah liga, seperti Kevin De Bruyne dan Thierry Henry.

Kontroversi Handball Bryan Mbeumo

Bruno Fernandes menerima pujian setelah memberikan umpan untuk gol ketiga Manchester United yang dicetak Bryan Mbeumo. (Sumber: TheGuardian/Foto: Phil Noble/Reuters)

Di balik perayaan tiket Liga Champions dan kegemilangan Fernandes, kepemimpinan wasit Michael Salisbury menjadi sorotan tajam. Salisbury mengambil keputusan membingungkan dengan tetap mengesahkan gol Matheus Cunha.

Sebelum gol terjadi, Bryan Mbeumo terlihat jelas mengontrol bola menggunakan kombinasi bisep dan dadanya sebelum melepaskan umpan kepada Cunha. Kejadian tersebut sempat membuat para pemain dan penonton tertegun, mengira peluit pelanggaran akan berbunyi.

Setelah penundaan VAR yang cukup lama, Salisbury secara mengejutkan menyatakan gol tersebut sah karena menganggap handball Mbeumo “tidak disengaja”. Keputusan ini langsung memicu protes keras dari kubu tim tamu.

“Sangat disayangkan pertandingan ditentukan oleh keputusan seperti itu. Bagi saya, itu jelas-jelas handball,” ujar Vitor Pereira, manajer Nottingham Forest dengan nada kecewa. “Saya rasa penting untuk duduk bersama dan menyamakan pemahaman tentang aturan ini. Semua manajer pasti punya pandangan yang sama untuk kasus sejelas ini.”

Langkah Besar Carrick dan Tantangan Musim Depan

Casemiro mengucapkan selamat tinggal kepada Old Trafford. (Sumber: TheGuardian/Foto: Martin Rickett/PA)

Carrick sendiri memilih menikmati atmosfer kemenangan ini. Ia berhasil mengubah kekacauan yang ditinggalkan Ruben Amorim menjadi sebuah tim yang solid, dengan catatan impresif: 11 kemenangan dari 16 laga pamungkas. Namun, ia sadar tantangan musim depan akan jauh lebih berat.

“Bisa berada di posisi saat ini adalah pencapaian yang fantastis. Para pemain layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya,” ujar Carrick. “Namun, semakin dekat Anda dengan puncak liga, tantangannya akan semakin sulit. Kita harus mengambil langkah besar berikutnya, dan itu tidak akan mudah tanpa investasi skuad yang tepat.”

Até a Morte: Perpisahan Emosional Casemiro

Morgan Gibbs-White, yang bermain dengan mengenakan masker pelindung karena cedera wajah, mencetak gol kedua Forest. (Sumber: TheGuardian/Foto: Martin Rickett/PA)

Laga ini juga menjadi panggung perpisahan bagi Casemiro. Di usia 34 tahun, mempertahankan gelandang asal Brasil ini untuk satu musim lagi dinilai sebagai langkah yang mustahil bagi United.

Sebelum kick-off, sebuah spanduk raksasa bertuliskan “Até a morte” (Sampai Mati) dibentangkan di tribun, penghormatan atas militansi Casemiro selama empat musim di Manchester. Setiap tekel yang ia lepaskan disambut gemuruh, dan setiap kali ia memegang bola di area menyerang, publik Old Trafford berteriak memintanya melepaskan tembakan.

Pada menit ke-80, Casemiro ditarik keluar dan berjalan meninggalkan lapangan dengan mata berkaca-kaca, menerima standing ovation dari seluruh stadion. Meski melewati periode pasca-Amorim yang sulit, ia pergi dengan kepala tegak, meninggalkan warisan satu trofi Piala Liga dan satu Piala FA.

Elliot Anderson Jadi Ancaman nyata

Menariknya, salah satu kandidat kuat pengganti Casemiro berada di lapangan malam itu mengenakan jersi lawan. Elliot Anderson menjadi pemain paling berbahaya dari kubu Forest.

Anderson terus-menerus merepotkan lini tengah United yang dikawal Casemiro dan Kobbie Mainoo. Kreativitas dan energinya terbukti saat ia memberikan assist matang untuk gol penyama kedudukan dari Morato (membatalkan gol pembuka Luke Shaw), serta membidani gol telat Morgan Gibbs-White yang membuat akhir laga menjadi sangat menegangkan bagi United.

Namun, United beruntung memiliki Fernandes. Assist ke-20 sang kapten berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Mbeumo untuk mengunci kemenangan krusial Setan Merah.

Mengusir Apatisme Old Trafford

Satu tahun lalu, Manchester United menutup musim dengan nestapa: kalah di final Liga Europa dari Tottenham dan finis di peringkat ke-15 di bawah Ruben Amorim.

Kini, suasananya berubah total. Saat memberikan pidato di tengah lapangan setelah peluit panjang berbunyi, Carrick disambut dengan optimisme baru. Sikap apatis yang sempat menyelimuti klub kini telah sirna, berganti dengan antusiasme menyambut Eropa. Namun bagi Carrick dan United, tidak ada waktu untuk bersantai jika ingin kembali ke jalur juara. (*)

Comment