MAKASSAR, MENITNEWS.COM – Tren gaya hidup mewah (luxury lifestyle) di media sosial kini tidak sekadar menjadi konsumsi visual, tetapi mulai merambah ke isu integritas di dunia kerja. Praktisi audit internal melaporkan adanya peningkatan risiko fraud (kecurangan) yang melibatkan karyawan muda dari generasi Z.
Fenomena FOMO dan Tekanan Sosial
Pakar Human Capital Management, Budi Santoso (yang akrab disapa Coach Busan), menjelaskan bahwa kerentanan ini bukan disebabkan oleh kurangnya kompetensi, melainkan tekanan gaya hidup dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out).
“Gen Z memiliki keinginan kuat untuk selalu terlihat ‘sukses’ di media sosial. Sayangnya, gaya hidup tersebut sering kali tidak sebanding dengan tingkat pendapatan mereka di posisi entry level,” ujar Coach Busan, dikutip dari Seru.co.id.
Dari Barang “Branded” ke Jalan Pintas
Paparan konten estetis—mulai dari barang bermerek hingga liburan mewah—mendorong perilaku konsumtif yang agresif. Ketika pendapatan tidak mencukupi dan jeratan utang mulai menghimpit, sebagian karyawan mulai mencari “jalan pintas” di kantor.
Menurut Head of HR People Service PT Rentokil Initial Indonesia ini, bentuk kecurangan tersebut biasanya dimulai dari hal kecil:
-
Manipulasi Administrasi: Memalsukan nota makan atau biaya perjalanan dinas.
-
Pelanggaran Data: Menjual informasi atau database klien demi keuntungan pribadi.
-
Gratifikasi: Menerima komisi tidak resmi dari vendor atau pihak ketiga.
Budi menambahkan, muncul pembenaran diri (justification) di mana karyawan merasa sudah bekerja keras namun gajinya tidak cukup, sehingga mereka merasa “berhak” mengambil keuntungan dari perusahaan.
Solusi bagi Perusahaan
Untuk mengatasi tantangan ini, perusahaan tidak hanya butuh pengawasan, tetapi juga pendekatan yang edukatif. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
-
Literasi Keuangan: Memberikan pelatihan pengelolaan gaji dan investasi bagi karyawan muda.
-
Dukungan Mental: Membantu karyawan mengatasi stres akibat tekanan sosial atau masalah utang.
-
Transparansi Karir: Menjelaskan struktur kenaikan jabatan agar karyawan memiliki target yang realistis.
Tantangan yang Adaptif
Meskipun risiko ini ada, Coach Busan menekankan bahwa tidak semua Gen Z berperilaku demikian. Banyak dari mereka justru membawa inovasi dan efisiensi tinggi bagi perusahaan.
“Mempekerjakan Gen Z memang memiliki tantangan tersendiri. Namun, dengan treatment yang adaptif dan pengawasan integritas yang tepat, mereka dapat memberikan kontribusi yang sangat positif bagi perusahaan,” pungkasnya. (*)
Comment