Revolusi Ekonomi Biru: Unhas dan Raksasa Korea Woolim Co Sulap Rumput Laut Jadi Industri Masa Depan

ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Ekosistem ekonomi biru merupakan model pembangunan ekonomi, yang memanfaatkan sumber daya kelautan dan perairan secara berkelanjutan. Universitas Hasanuddin (Unhas), menyadari betul hal itu.

Dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak ekosistem laut.  Konsep ini menekankan bahwa laut bukan hanya sumber eksploitasi ekonomi, tetapi juga ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.

Secara konseptual, ekonomi biru (blue economy) berkembang dari gagasan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

Salah satu rujukan globalnya adalah pendekatan yang dipopulerkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), yang menekankan bahwa aktivitas ekonomi kelautan harus: Menghasilkan pertumbuhan ekonomi, Meningkatkan kesejahteraan sosial, dan Menjaga kelestarian ekosistem laut.

Universitas Hasanuddin (Unhas) menerima kunjungan perusahaan Korea Selatan, Woolim Co., Ltd, dalam rangka penjajakan kerja sama riset di bidang Ekonomi Biru, baru-baru ini.

Kunjungan tersebut, menindaklanjuti komunikasi awal yang diinisiasi langsung oleh pihak Woolim setelah melihat kapasitas akademik dan reputasi Unhas.

Fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan rumput laut sebagai komoditas prioritas ekonomi biru. Woolim berencana mengembangkan industri berbasis rumput laut.

Mulai dari produksi kemasan ramah lingkungan, hingga pemanfaatan sebagai bahan baku pakan ikan dan udang untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan imunitas.

Model kolaborasi mengadopsi praktik di Korea Selatan, dimana Universitas melaksanakan riset berbasis kebutuhan industri (demand-driven research) dengan dukungan pendanaan dan skema co-funding dari mitra perusahaan.

Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis Unhas, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil, menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang sebagai model kolaborasi akademik yang terstruktur dan berorientasi pada luaran terukur.

“Kami tidak hanya berbicara tentang kerja sama riset dalam arti sempit, tetapi tentang membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi. Unhas berperan sebagai knowledge producer, sementara industri menjadi knowledge user sekaligus mitra strategis dalam proses hilirisasi,” tegasnya.

Hasil riset selanjutnya diarahkan pada tahapan hilirisasi melalui pengembangan prototipe, uji coba skala pilot, hingga komersialisasi produk oleh industri.

Pada tahap awal, kolaborasi juga direncanakan melibatkan mitra akademik dari Korea, yakni Pukyong National University.

“Setiap tahapan riset akan dilaksanakan melalui metodologi yang terukur dan terdokumentasi secara akademik. Dengan demikian, kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperkaya khazanah keilmuan dan publikasi bereputasi,” jelas Prof. Adi.

CEO Woolim Co., Ltd, Mrs. Woojung Yun, dalam sambutannya menegaskan komitmen perusahaan untuk membangun kolaborasi riset jangka panjang bersama Unhas  yang berorientasi pada pengembangan industri berbasis ekonomi biru.

“Fokus kami adalah mengembangkan produk turunan rumput laut yang memiliki nilai tambah tinggi, termasuk kemaran ramah lingkungan dan bahan baku pakan perikanan yang dapat meningkatkan kualitas nutrisi serta imunitas,” ujar Mrs. Woojung Yun.

Lebih lanjut, Mrs. Woojung Yun menyampaikan bahwa Woolim akan mengupayakan dukungan pendanaan riset, termasuk peluang hibah dari pemerintah Korea Selatan.

“Kami akan menjajaki berbagai skema pembiayaan untuk memastikan keberlanjutan proyek ini dan membuka peluang pengujian lanjutan di Korea apabila diperlukan,” tuturnya.

Kerja sama ini diharapkan menjadi model kolaborasi riset internasional yang tidak hanya memperkuat kapasitas akademik dan inovasi teknologi.

Tetapi Unhas juga mendorong terciptanya rantai nilai industri berbasis rumput laut yang berkelanjutan. (*)

Comment