MENITNEWS.COM, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/02) telah memicu kekhawatiran global. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, sempat terhenti akibat ancaman blokade. Namun, para pakar meyakini bahwa Iran tidak akan mengambil risiko menutup jalur ini dalam jangka panjang.
Ancaman yang Menjadi Bumerang
Langkah untuk memblokade Selat Hormuz dinilai sebagai tindakan yang tidak rasional bagi Teheran. Dalga Khatinoglu, analis gas dan ekonomi dari Iran International, mengungkapkan bahwa sekitar 70% perdagangan nonmigas Iran sangat bergantung pada akses melalui selat tersebut.
“Sangat tidak logis bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting, seperti pangan,” ujar Sara Vakhshouri, pakar energi dari SVB Energy International kepada Bloomberg TV.
Vakhshouri menambahkan bahwa langkah ekstrem tersebut justru akan merugikan Iran sendiri, mengingat mayoritas ekspor mereka ditujukan ke pasar Asia, yakni Cina dan India.
Dampak Ekonomi Global
Sejak serangan terjadi, harga minyak dan gas dunia melonjak tajam. Analisis memperkirakan biaya satu barel minyak bisa menyentuh angka 100 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta) jika akses melalui Selat Hormuz dianggap terlalu berbahaya untuk dilalui.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), selat ini memegang peranan krusial bagi dunia:
-
20% pasokan minyak mentah dunia diangkut melalui jalur ini.
-
80% dari pengiriman tersebut ditujukan ke Asia (Cina, India, dan Jepang).
-
Pasokan energi Eropa: Selat ini menyalurkan 30% bahan bakar penerbangan Eropa dan 20% gas alam cair (LNG) global.
Sejumlah negara besar, seperti AS, Inggris, Jepang, Kanada, dan negara anggota Uni Eropa, dikabarkan telah menyiapkan cadangan strategis untuk mengantisipasi gangguan pasokan jika terjadi krisis sementara.
Cina Sebagai “Sumber Kehidupan” Iran
Di tengah sanksi ekonomi Barat yang kembali diperketat pasca-penarikan AS dari kesepakatan nuklir (JCPOA), Iran kini sangat bergantung pada Cina. Data platform Kpler menunjukkan bahwa lebih dari 80% ekspor Iran saat ini dikirim ke Cina.
Nikolay Kozhanov dari Qatar University menyebut Cina sebagai “sumber kehidupan yang tak tergantikan” bagi ekspor minyak Iran. Meski menguntungkan, hubungan ini membuat Iran berada dalam posisi lemah. Sanksi memaksa Iran menjual minyak dengan harga diskon, sementara biaya logistik meningkat tajam karena harus menggunakan “armada kapal bayangan” dan rute alternatif.
Masa Depan Energi Iran
Sanksi Barat diakui telah memberikan dampak struktural bagi ekonomi Iran. Meskipun tidak benar-benar menutup akses Iran ke pasar global, sanksi membatasi investasi, teknologi, dan pembiayaan internasional yang sangat dibutuhkan untuk produksi minyak jangka panjang.
“Iran kemungkinan tetap hadir di pasar minyak global, tetapi sebagai pemasok yang secara struktural melemah,” jelas Kozhanov. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai “spiral negatif yang lambat”, di mana penurunan kinerja dan stabilitas rezim terjadi secara bertahap.
Bagi Teheran, stabilitas ekonomi Cina saat ini jauh lebih menentukan nasib mereka dibandingkan ancaman sanksi baru dari PBB. (*)
Comment