Kemenangan Telak MULIA vs Pertarungan Ketokohan IAS, DP, dan NH

Oleh: Dr. Muhammad Asdar, M.Si (Dosen Komunikasi Fakultas Pascasarjana Unifa)

Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar 2024, telah terlihat hasilnya versi quick count (perhitungan cepat), Rabu, 27 November kemarin.

Sejatinya, kemenangan pasangan Munafri-Aliyah (MULIA) adalah hasil kemampuan dan racikan politik Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dalam kontestasi yang diikuti empat pasang calon.

Di balik kemenangan pasangan MULIA terdapat pertarungan tiga tokoh politik kota daeng yang berada dibelakang masing-masing paslon khususnya Danny Pomanto (pasangan INIMI) IAS (MULIA) dan Nurdin Halid yang menjagokan Andi Seto-Nurriskiyani (SEHATI) serta Amri Rasyid-Rahman Bando (AMAN). Jika dikerucutkan lagi maka ini adalah jilid ketiga pertarungan politik antara DP, IAS dan NH.

Mengapa? karena ketiganya selalu hadir pada setiap pilkada yang di gelar baik tingkat kabupaten/kota dan propinsi.

Lantas apakah kemenangan MULIA harus diakui menjadi panggung politik dan mempertegas posisi IAS? jawabannya masih sangat berperan penting dan tokoh kunci utama dan sangat berpengaruh untuk kontestasi politik lokal Sulsel dan wabilkhusus kota Makassar.

Tampilnya MULIA di Makassar sebagai pemenang berdasarkan quick count – dan hampir pasti secara real count -menunjukkan IAS secara komunikasi politik sangat signifikan.

Hal itu digambarkan dalam teori komunikasi politik yang diperkenalkan oleh Prof Hafied Cangara dalam bukunya komunikasi politik (2009) yang melihat nilai (value) sang komunikator mampu mempersandingkan orientasi masa depan dan mengantisipasi atau meninggalkan masa lalu dengan prestasi, kinerja dan memelihara nilai kearifan lokal.

IAS yang sebelumnya dalam upaya “come back” ke panggung politik melalui Partai Demokrat (PD), meski unggul dalam musyawarah dàerah (musda) namun terjegal oleh DPP PD untuk ketua DPD Sulsel.

Sebagai sosok politisi yang tidak pantang menyerah, IAS kemudian kembali berlabuh di Partai Golkar (PG) Sulsel. Terus berada di primat survèy elektabilitas PG Sulsel adalah buah pergerakan politiknya yang langsung berkeliling menyatakan diri akan maju pilgub Sulsel.

Lagi- lagi IAS begitu berjiwa besar, rekomendasi dari beberapa partai “dibegal oleh kekuatan perpaduan oligarki dan kekuatan logistik – meski hal ini sejatinya bukan hal utama-, tetapi memang secara politik IAS dikondisikan untuk tidak boleh ikut, karena hampir pasti jika ikut berlaga IAS dipastikan akan unggul.

Keputusan memasangkan Ibu Aliyah Mustika Ilham dan berkoaliasi dengan kekuatan politik Munafri Arifuddin (Appi) dan jaringannya, adalah cara IAS menunjukkan ke PD dan PG bahwa jaringan politik IAS masih sangat kuat di kota Daeng saat ini. (*)

Comment