MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Meminta maaf mungkin terlihat sederhana, namun tidak semua orang mampu melakukannya.
Padahal, dalam kehidupan sosial, sikap mau mengakui kesalahan dan meminta maaf justru menjadi kunci dari hubungan yang sehat dan harmonis.
Sebaliknya, perilaku tidak mau minta maaf kerap dianggap sebagai salah satu sikap paling dibenci oleh banyak orang.
Menurut Psikolog Sosial, Dr. Andini Pratama, keengganan untuk meminta maaf sering kali berasal dari ego yang terlalu tinggi, rasa malu, atau ketakutan terlihat lemah.
Namun, dampaknya justru lebih besar daripada yang dibayangkan.
“Orang yang tidak mau mengakui kesalahan akan cenderung menyalahkan orang lain atau mencari pembenaran diri, dan ini sangat menyakiti perasaan orang di sekitarnya,” ujarnya.
Perilaku yang Menyakitkan dan Mengikis Kepercayaan
Sikap enggan meminta maaf, tidak hanya membuat orang merasa tidak dihargai, tetapi juga mengikis kepercayaan dalam relasi.
Dalam konteks keluarga, pertemanan, bahkan dunia kerja, individu yang sulit mengucapkan kata maaf sering dianggap tidak bertanggung jawab dan arogan.
“Permintaan maaf adalah bentuk empati. Saat seseorang menyakiti orang lain, entah secara sadar atau tidak, permintaan maaf menunjukkan bahwa dia peduli pada perasaan orang tersebut,” jelas Andini.
Studi Kasus: Hubungan Retak Karena Tak Pernah Minta Maaf
Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Psikologi Terapan Indonesia terhadap 1.000 responden, menunjukkan bahwa 76% responden pernah mengalami hubungan retak—baik dengan pasangan, sahabat, maupun rekan kerja—karena pihak lain enggan mengakui kesalahan atau minta maaf.
Salah satu responden, Rina (32), mengaku menghentikan persahabatannya selama 10 tahun dengan seorang teman karena masalah kecil yang tak pernah diberi klarifikasi atau permintaan maaf.
“Aku bukan butuh dia mengemis maaf, cukup mengakui salahnya saja. Tapi karena dia selalu merasa benar, aku jadi muak,” akunya.
Bukan Soal Salah Siapa, Tapi Soal Kepedulian
Menariknya, permintaan maaf tidak selalu berarti seseorang sepenuhnya salah. Kadang, hanya dengan berkata “Maaf jika sikap saya menyinggung,” seseorang sudah menunjukkan kedewasaan emosional dan kepedulian.
Psikolog menyebutkan bahwa orang yang mampu minta maaf cenderung lebih disukai, dihormati, dan punya hubungan sosial yang lebih stabil.
“Memaafkan memang sulit, tapi lebih sulit lagi memaafkan orang yang bahkan tidak mau minta maaf,” pungkas Andini.
Tidak mau meminta maaf bukan hanya soal harga diri, tapi juga soal keberanian untuk memperbaiki hubungan. Di tengah kompleksitas interaksi manusia, kata “maaf” bisa menjadi jembatan yang menyelamatkan hubungan dari kehancuran.
Maka dari itu, hindari sikap keras kepala dan belajar untuk merendahkan hati. Karena sering kali, satu kata maaf bisa lebih kuat dari seribu alasan! (*)
Comment