Bone Go International! Gandeng Jepang Kembangkan Silvofishery: Ekonomi Melejit, Mangrove Lestari

ads
ads

MENITNEWS.COM, BONE — Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana investasi perusahaan asal Jepang, YL Forest Co. Ltd.

Perusahaan ini berencana memfokuskan investasinya pada sektor budidaya perikanan yang terintegrasi dengan pelestarian hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Andi Asman saat menerima audiensi Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer (CEO) YL Forest Co. Ltd, Naoto Akune, yang hadir bersama Kaori Kawazoe dan Keiji Sato di Rumah Jabatan Bupati Bone, Watampone, pada Minggu (15/2/2026).

“Atas nama pribadi dan pemerintah daerah, kami menyambut baik rencana investasi ini. Terlebih investasi di sektor lingkungan merupakan bagian dari program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Andi Asman.

Sebagai bentuk komitmen nyata pemerintah daerah, Bupati Bone segera menginstruksikan jajaran terkait untuk melakukan inventarisasi kawasan mangrove di sepanjang pesisir yang membutuhkan rehabilitasi.

Langkah cepat ini diharapkan dapat memperlancar realisasi investasi sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan di Bumi Arung Palakka.

Menurut Andi Asman, investasi ini tidak hanya berdampak positif pada pemulihan ekosistem, tetapi juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi masyarakat pesisir.

Ia menilai konsep yang ditawarkan tetap melibatkan masyarakat lokal sebagai pemilik dan pengelola tambak, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan mereka dari hasil budidaya udang, ikan, dan kepiting Bone.

“Selain hasil budidaya, masyarakat juga berpeluang memperoleh tambahan penghasilan dari penjualan bibit mangrove dan kegiatan penanaman di Bone. Ini memberikan manfaat ganda, ekonomi meningkat sekaligus lingkungan terjaga,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur YL Forest Co. Ltd, Naoto Akune, mengungkapkan bahwa pihaknya akan memulai proyek ini dengan tahap uji coba penanaman mangrove di atas lahan tambak seluas kurang lebih 220 hektare di beberapa titik kawasan pesisir Bone.

“Kami menargetkan uji coba ini selesai dalam waktu tiga tahun. Jika mendapat dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah, proyek ini akan dikembangkan lebih luas hingga mencapai ribuan hektare,” kata Akune.

Naoto Akune menjelaskan bahwa investasi tersebut mengusung konsep silvofishery, yakni metode budidaya perikanan yang mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan kegiatan produksi perikanan secara berkelanjutan.

Dalam penerapannya, sekitar 60 hingga 80 persen area tambak akan dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20 hingga 40 persen sisanya dimanfaatkan sebagai kolam atau saluran air untuk budidaya ikan, udang, dan kepiting.

Akune menambahkan bahwa keberadaan mangrove memiliki peran vital sebagai biofilter alami yang menjaga kualitas air, menyediakan nutrisi alami bagi biota, serta melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan.

“Dengan sistem ini, mangrove menjadi bagian utama ekosistem yang mendukung budidaya. Selain menjaga kelestarian alam, metode ini juga dapat menekan biaya produksi karena mengurangi kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan, sehingga budidaya menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan,” paparnya.

Ia juga menyebutkan bahwa, sebelum dibawa ke Bone, konsep silvofishery telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan sejumlah wilayah di Asia Tenggara, sebagai model budidaya modern yang mampu menyelaraskan keberlanjutan lingkungan dengan produktivitas ekonomi. (*)

Comment