Membaca Arah Mata Angin: Konflik Timur Tengah dan Ambisi Israel Raya

ads
ads

Oleh: Shamsi Ali (Putra Kajang di Kota New York, Amerika Serikat)

KETEGANGAN di Timur Tengah seringkali mengundang sikap apatis. Di tengah kekhusyukan Bulan Suci Ramadan lalu, nurani kita kembali terusik oleh konfrontasi terbuka antara Iran dan Israel yang disokong penuh oleh Amerika Serikat.

Namun, yang lebih mengecewakan dari desing peluru adalah sikap sebagian Pemimpin Dunia Islam—baik politik maupun agama—yang seolah kehilangan taji di panggung diplomasi internasional.

​Salah satu ironi terbesar yang kita saksikan adalah pembentukan Board of Peace (BOP). Digadang-gadang sebagai wadah agar suara Dunia Islam lebih didengar, institusi ini justru tampak “mati suri” saat kekerasan terus memuncak di Gaza dan seluruh bumi Palestina.

Bahkan, ketika akses ke Masjid Al-Aqsa dibatasi ketat selama Ramadan lalu, para anggota BOP dari Negara Muslim seolah terbelenggu, tak berdaya menghadapi realitas di lapangan.

​Ekspansi dan Paradoks Penegakan Hukum

​Serangan mendadak Israel terhadap Iran baru-baru ini, mengungkap tabir kemunafikan global. Tragedi yang merenggut nyawa ratusan warga sipil serta tokoh penting, seperti Ali Khamenei dan Ali Larijani, terjadi di tengah negosiasi nuklir yang sedang diupayakan.

​Tindakan unilateral ini adalah paradoks nyata dari semangat perdamaian yang dipropagandakan BOP.

Dunia cenderung diam, bahkan menyalahkan Iran saat mereka melakukan pembelaan diri. Tuduhan mengenai ambisi nuklir Iran, seringkali hanyalah pintu masuk untuk agenda yang lebih besar:

​Penguasaan Sumber Daya: Iran sebagai produsen minyak raksasa adalah target ekonomi yang menggiurkan.

​Geopolitik: Membendung pengaruh China dan Rusia di Kawasan Timur Tengah.

​Ambisi Teologis-Politis: Mewujudkan impian “Israel Raya” (The Kingdom of David) di Yerusalem.

​Ancaman Terhadap Al-Aqsa

​Serangan terhadap Iran bukan sekadar urusan nuklir atau minyak. Ini adalah langkah sistematis untuk mengeliminasi penghalang utama demi tegaknya The Temple of Solomon.

Fokus dunia sengaja dialihkan agar rencana jangka panjang terhadap Masjid Al-Aqsa tidak terdeteksi.

Tanpa perlawanan yang berarti, situs suci ketiga Umat Islam ini berada dalam ancaman penghancuran yang pelan namun terencana.

​Menjemput Momentum Persatuan Umat

​Kita harus berhenti bermimpi bahwa kemerdekaan Palestina atau keamanan Al-Aqsa, akan diberikan sebagai “hadiah” oleh Amerika Serikat atau Israel.

Fakta membuktikan bahwa diplomasi tanpa posisi tawar yang kuat hanya akan berakhir pada kekecewaan.

​Harapan itu ada pada kemampuan Umat Islam untuk membangun kesatuan yang nyata. Kita perlu mengingat sejarah:

​Kekuatan Energi: Bagaimana Raja Faisal dari Arab Saudi pernah mengguncang ekonomi AS melalui kebijakan minyaknya.

​Ketangguhan Geografis: Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terbukti mampu menggoyahkan stabilitas ekonomi dan politik global, bahkan membuat kepemimpinan di Washington mengalami salah kalkulasi.

​Jika satu negara saja mampu memberikan dampak sedemikian besar, bayangkan kekuatan yang tercipta jika dunia Islam bersinergi, terutama dalam sektor energi dan ekonomi.

​Perang Melawan Identitas

​Narasi yang muncul dari lingkaran ekstremis di pemerintahan saat ini, seringkali menyamaratakan ancaman terhadap Sunni maupun Syiah.

Ini adalah sinyal bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar batas negara, melainkan eksistensi identitas Islam itu sendiri.

​Sangat memilukan jika di tengah ancaman yang nyata ini, Dunia Islam masih terjebak dalam utopia organisasi semu seperti BOP.

Sudah saatnya kita sadar: kekuatan tidak datang dari meja perundingan yang didikte lawan, melainkan dari kemandirian dan persatuan umat yang kokoh.

Harapan kita, konflik di Timur Tengah ini segera berakhir. (*)

Comment