Makassar Half Marathon 2026 dan Tantangan Green Sport Tourism: Ketika Olahraga Harus Sejalan Dengan Etika Lingkungan

ads
ads
ads

Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)

PAGI di Pantai Losari selalu memiliki cara tersendiri membangunkan harapan. Angin laut bergerak perlahan menyapu tepian kota, sementara matahari muncul malu-malu dari ufuk timur.

Dalam beberapa hari ke depan, kawasan ikonik ini tidak hanya dipenuhi aroma kopi dan pisang epe, tetapi juga denyut ribuan langkah manusia yang datang membawa semangat untuk berlari.

Makassar Half Marathon (MHM) 2026 kembali hadir. Lebih besar, lebih ramai, dan semakin bergengsi. Ribuan pelari dari berbagai daerah bahkan mancanegara diperkirakan memenuhi jalan-jalan utama Kota Makassar. Hotel-hotel bergairah, UMKM bergerak, dan denyut ekonomi kota meningkat.

Namun di balik kemeriahan itu, terdapat satu pertanyaan penting yang sering terlupakan setelah garis finish dibongkar dan panggung hiburan dipadamkan: apa sebenarnya warisan lingkungan yang ditinggalkan sebuah pesta olahraga?

Sebab sejarah kota-kota modern sering memperlihatkan ironi yang sama. Kita merayakan kesehatan tubuh manusia, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tekanan baru bagi tubuh bumi.

Di balik medali dan sorak sorai, terdapat ribuan gelas plastik sekali pakai yang tercecer di jalanan. Ada botol air mineral yang berakhir di drainase. Ada kemasan makanan instan yang tertiup angin menuju laut.

Belum lagi jejak karbon dari mobilisasi peserta dan logistik event berskala besar yang kerap dianggap sepele, padahal terus menumpuk dari tahun ke tahun.

Makassar hari ini sedang berada di persimpangan penting: apakah olahraga akan menjadi simbol kemajuan peradaban, atau justru menambah daftar panjang persoalan ekologis kota pesisir ini?

Ketika Kota Berlari, Lingkungan Ikut Menanggung Beban

Di era modern, hampir seluruh aktivitas manusia menghasilkan sampah, termasuk kegiatan yang identik dengan gaya hidup sehat.

Road race bukan lagi sekadar lomba lari. Ia telah berkembang menjadi industri besar yang melibatkan logistik massal, konsumsi produk, distribusi perlengkapan, promosi, hingga mobilisasi manusia dalam jumlah besar. Semakin besar sebuah event, semakin besar pula jejak ekologinya.

Dalam hitungan sederhana, puluhan ribu wadah hidrasi diperkirakan digunakan hanya dalam beberapa jam pelaksanaan MHM 2026. Tanpa pengelolaan serius, sebagian besar berpotensi berakhir di tempat pembuangan akhir, tercecer di pesisir, atau masuk ke laut sebagai mikroplastik yang perlahan kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Di sinilah etika lingkungan menjadi sangat penting. Etika lingkungan bukan sekadar imbauan membuang sampah pada tempatnya. Ia merupakan kesadaran moral bahwa manusia tidak hidup sendirian di bumi. Setiap kenyamanan yang dinikmati manusia selalu memiliki konsekuensi ekologis.

Selama ini, manusia modern terlalu sering memosisikan alam sebagai pelayan kebutuhan tanpa batas. Laut dianggap tempat pembuangan akhir, sungai diperlakukan sebagai saluran limbah, dan tanah dipandang sebagai ruang tak terbatas untuk menumpuk residu konsumsi.

Padahal bumi memiliki kapasitas terbatas untuk memulihkan dirinya. Sebagai kota pesisir, Makassar memiliki kerentanan ekologis yang nyata. Sampah plastik yang tercecer di kawasan CPI maupun Pantai Losari tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke laut. Ketika hujan turun, drainase membawa semuanya menuju pesisir.

Dari sana, plastik berubah menjadi ancaman senyap bagi ikan, terumbu karang, dan ekosistem laut yang menopang kehidupan masyarakat nelayan.

Ironisnya, sebagian pelari datang mencari udara sehat dan pengalaman wisata alam, sementara event yang mereka ikuti justru berpotensi meninggalkan tekanan baru bagi lingkungan.

Green Sport Tourism Bukan Sekadar Tren

Di berbagai negara, konsep green sport tourism telah berkembang menjadi standar etis baru dalam industri olahraga. Sebuah event tidak lagi dinilai hanya dari jumlah peserta atau kemegahan panggungnya, tetapi juga dari seberapa kecil dampak ekologis yang ditimbulkan.

Ini bukan sekadar tren kosmetik, melainkan kebutuhan mendesak di tengah ancaman krisis iklim global.

Gelombang panas ekstrem, banjir perkotaan, dan perubahan cuaca yang semakin tidak menentu merupakan konsekuensi nyata dari pola konsumsi manusia yang berlebihan. Karena itu, seluruh sektor kehidupan, termasuk olahraga, dituntut untuk ikut bertanggung jawab.

Makassar Half Marathon memiliki peluang besar menjadi pelopor sport tourism hijau di Indonesia Timur.

Bukan tidak mungkin suatu hari orang datang ke Makassar bukan hanya karena lintasannya indah, tetapi karena event ini dikenal disiplin terhadap pengelolaan lingkungan.

Bayangkan jika setiap titik hidrasi memiliki sistem pemilahan sampah yang tertib. Bayangkan jika relawan lingkungan bergerak cepat membersihkan jalur lomba.

Bayangkan jika para pelari membawa botol minum sendiri dan merasa bangga karena mampu berlari tanpa menghasilkan banyak sampah.

Budaya besar selalu lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.

Kota yang maju bukanlah kota yang sepenuhnya bebas sampah, melainkan kota yang masyarakatnya memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Persoalan terbesar sebenarnya bukan terletak pada keberadaan sampah, melainkan cara manusia memandang sampah itu sendiri.

Selama ini sampah diperlakukan sebagai benda mati yang harus segera dibuang sejauh mungkin dari pandangan. Akibatnya, masyarakat merasa persoalan selesai begitu sampah meninggalkan tangan mereka.

Padahal sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Sampah berubah menjadi gunungan di TPA Tamangapa. Ia menjadi lindi yang mencemari tanah. Ia berubah menjadi mikroplastik di laut dan masuk ke tubuh ikan yang dikonsumsi manusia. Bahkan, ia menjadi asap beracun ketika dibakar secara sembarangan.

Karena itu, pendekatan ekonomi sirkular menjadi sangat relevan diterapkan dalam event seperti MHM 2026. Sampah tidak boleh lagi dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai material yang dapat diputar kembali ke dalam rantai pemanfaatan.

Botol plastik dapat didaur ulang. Sisa buah dapat diolah menjadi kompos. Kardus logistik dapat digunakan kembali. Bahkan perlengkapan peserta idealnya mulai menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di sinilah peran komunitas lokal menjadi penting.

Bank sampah, relawan lingkungan, komunitas daur ulang, pegiat eco enzyme, hingga warga sekitar sesungguhnya dapat menjadi bagian dari ekosistem besar sebuah event hijau. Mereka bukan sekadar petugas kebersihan tambahan, melainkan aktor penting dalam menjaga martabat ekologis Kota Makassar.

Berlari Sebagai Tindakan Etis

Ada satu hal yang sering terlupakan: olahraga sejatinya merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan.

Manusia berlari karena ingin sehat, ingin panjang umur, dan ingin menjaga tubuh tetap kuat. Namun apa arti tubuh yang sehat jika lingkungan tempat manusia hidup justru perlahan sakit?

Kita tidak bisa berbicara tentang kesehatan manusia sambil mengabaikan kesehatan bumi.

Udara yang dihirup, air yang diminum, dan makanan yang dikonsumsi semuanya berasal dari ekosistem yang sama. Karena itu, berlari seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas fisik, tetapi juga tindakan etis—cara manusia belajar bergerak tanpa merusak.

Mungkin inilah makna terdalam dari slogan Run for All. Bahwa “untuk semua” tidak hanya berarti inklusif bagi seluruh pelari, tetapi juga ramah bagi laut, udara, pepohonan kota, dan generasi yang belum lahir.

Karena setiap event besar sejatinya sedang meninggalkan warisan. Pertanyaannya sederhana: apakah warisan itu berupa inspirasi, atau justru tumpukan sampah?

Garis Finish yang Sesungguhnya

Pada akhirnya, garis finish sebuah maraton bukanlah tempat pelari mengangkat medali.

Garis finish yang sesungguhnya adalah ketika sebuah kota mampu merayakan kemajuan tanpa menghancurkan lingkungannya sendiri.

Makassar memiliki kesempatan besar menunjukkan bahwa modernitas tidak harus identik dengan kerakusan konsumsi. Bahwa pesta rakyat dapat berlangsung meriah sekaligus bertanggung jawab. Bahwa sport tourism dapat tumbuh tanpa menambah luka ekologis.

Kita tentu ingin ribuan pelari pulang membawa cerita indah tentang keramahan Kota Daeng. Namun akan jauh lebih bermakna jika mereka juga pulang membawa kesadaran baru: bahwa menjaga bumi adalah bagian dari gaya hidup sehat itu sendiri.

Karena pada akhirnya, manusia mungkin mampu memenangkan lomba lari.

Tetapi tanpa etika lingkungan, kita perlahan sedang kalah dalam perlombaan yang jauh lebih besar: menyelamatkan masa depan bumi. (*)

Comment