MENITNEWS.COM, MAKASSAR – Di banyak tempat, pembangunan sering dimaknai sebagai beton yang menjulang, jalan yang melebar, dan gedung yang berkilau. Kita begitu sibuk menatap langit, hingga lupa bahwa masa depan sesungguhnya justru sedang dipertaruhkan di garis paling bawah: di lumpur pesisir, di akar-akar bakau, di tempat ombak pertama kali menyentuh daratan.
Pada menjelang sore yang basah di pesisir Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, ribuan tangan turun ke lumpur. Mereka tidak sedang membangun pusat perbelanjaan atau kawasan elite. Mereka sedang menanam sesuatu yang jauh lebih penting: kemungkinan agar kota ini tetap memiliki masa depan.
Sebanyak 7.000 pohon mangrove ditanam melalui sinergi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama PT BRI Asuransi Indonesia (BRINS), dengan dukungan teknis Yayasan Buttaporea Indonesia. Di atas kertas, angka itu mungkin hanya statistik penghijauan. Namun bagi pesisir Makassar yang terus digerus abrasi, dihantam perubahan iklim, dan dibebani sampah plastik, tujuh ribu mangrove adalah tujuh ribu ikhtiar mempertahankan kehidupan.
Kita hidup di zaman ketika bencana ekologis tidak lagi datang sebagai kemungkinan, melainkan kenyataan harian. Cuaca ekstrem menjadi semakin akrab. Permukaan laut perlahan naik. Garis pantai berubah diam-diam. Nelayan semakin sulit membaca musim. Di tengah situasi itu, mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Ia adalah benteng terakhir.
Akar-akar mangrove bekerja dalam diam. Ia memecah energi ombak, menahan abrasi, memperlambat intrusi air laut, sekaligus menjadi rumah bagi ribuan biota laut. Ketika mangrove hilang, sesungguhnya yang ikut hilang bukan hanya pohonnya, melainkan sistem perlindungan alami yang selama ratusan tahun menjaga pesisir Nusantara.
Karena itu, aksi di Untia layak dibaca lebih dari sekadar seremoni korporasi. Ada sesuatu yang penting di baliknya: kesadaran bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan sendirian.
PNM dan BRINS hadir sebagai penggerak program. Yayasan Buttaporea memastikan pendekatan saintifik berjalan tepat. Pemerintah daerah turun langsung. Aparat keamanan ikut mengawal. Warga, ibu-ibu nasabah Mekaar, hingga komunitas lokal turut memanggul bibit ke tengah lumpur. Inilah wajah gotong royong ekologis yang mulai jarang kita temukan di tengah kehidupan urban yang individualistik.
Kita sering berbicara tentang kolaborasi, tetapi gagal menghadirkan kerja bersama yang nyata. Di Untia, kolaborasi itu tampak sederhana: kaki-kaki yang terbenam lumpur, tangan-tangan yang kotor, dan wajah-wajah yang berkeringat di bawah matahari pesisir. Namun justru di sanalah letak makna paling dalam dari restorasi lingkungan: bumi tidak diselamatkan oleh pidato, melainkan oleh keterlibatan.
Yang menarik, program ini tidak berhenti pada aktivitas menanam. Sebab dalam dunia restorasi ekosistem, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah bibit ditancapkan.
Banyak program penghijauan gagal karena hanya mengejar dokumentasi tanam, bukan keberlanjutan hidup tanaman. Bibit ditanam hari ini, lalu dilupakan besok. Alam akhirnya kembali kalah oleh ketidakseriusan manusia.
Untia mencoba keluar dari jebakan itu. Sistem ajir ganda diterapkan untuk melindungi bibit dari hantaman arus Selat Makassar. Alat Penahan Ombak (APO) dipasang untuk menahan sampah dan gelombang. Monitoring dilakukan secara berkala menggunakan metode sampling plot. Jika ada bibit mati, penyulaman segera dilakukan.
Pendekatan seperti ini menunjukkan satu hal penting: menjaga alam membutuhkan disiplin ekologis, bukan sekadar semangat sesaat.
Di sisi lain, ancaman terbesar pesisir hari ini bukan hanya ombak, melainkan sampah plastik. Ironisnya, manusia sering merusak benteng yang sebenarnya sedang melindunginya sendiri.
Plastik-plastik rumah tangga yang hanyut ke laut akan tersangkut di batang mangrove muda, mematahkan tunas, dan menggagalkan proses fotosintesis.
Di titik inilah persoalan lingkungan memperlihatkan wajahnya yang paling jujur: krisis ekologis selalu berakar pada perilaku manusia.
Karena itu, restorasi mangrove tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Ia harus disertai perubahan budaya hidup masyarakat pesisir dan perkotaan. Kesadaran memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, hingga membangun tanggung jawab kolektif terhadap laut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan menyelamatkan mangrove.
Makassar, sebagai kota pesisir besar di Indonesia Timur, sesungguhnya sedang berada di persimpangan sejarah ekologisnya. Di satu sisi, pertumbuhan kota terus bergerak cepat. Reklamasi, ekspansi kawasan, dan tekanan ekonomi mendorong perubahan bentang pesisir secara masif. Namun di sisi lain, alam terus mengirimkan peringatan bahwa daya dukung lingkungan memiliki batas.
Untia memberi pesan bahwa harapan itu masih ada.
Harapan itu lahir ketika korporasi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi ikut memulihkan ekosistem. Harapan itu tumbuh ketika pemerintah tidak bekerja sendiri, melainkan membuka ruang kolaborasi. Harapan itu hidup ketika masyarakat merasa bahwa mangrove bukan milik proyek, melainkan milik mereka sendiri.
Dalam ilmu restorasi ekologi, ada satu istilah penting yang disebut local ownership—rasa memiliki dari masyarakat lokal. Tanpa itu, seluruh program penghijauan hanya akan menjadi arsip foto dan laporan tahunan. Tetapi ketika warga merasa memiliki, pohon-pohon itu akan dijaga seperti menjaga rumah sendiri.
Sesungguhnya, masa depan kota-kota pesisir tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun, melainkan seberapa kuat ekosistemnya dipertahankan. Sebab kota yang kehilangan pesisirnya perlahan akan kehilangan kehidupannya.
Mungkin karena itulah menanam mangrove selalu terasa berbeda. Ia bukan pekerjaan yang glamor. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada karpet merah, tidak ada tepuk tangan mewah. Yang ada hanyalah lumpur, air asin, dan keyakinan bahwa satu pohon hari ini bisa menjadi perlindungan bagi anak-anak di masa depan.
Dan di Untia, pada saat menjelang sore yang sederhana itu, Makassar sedang belajar satu hal penting: bahwa menyelamatkan bumi kadang dimulai dari kesediaan untuk mengotori kaki sendiri. (*)
Penulis: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar)
Comment