MENITNEWS.COM, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), mendukung kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyesuaikan distribusi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi lima hari kerja, dan menghentikan pembagian paket makanan selama masa libur sekolah.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan program di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, mengatakan kondisi rupiah yang menyentuh Rp17.900 per dolar AS memberikan dampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi dan distribusi program MBG di sejumlah daerah.
“Efisiensi anggaran saat ini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi instrumen penting agar program MBG tetap berjalan berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Abdul Rivai Ras, Jumat (29/5/2026).
Menurut Bro Rivai sapaan akrab Rivai Ras, pelemahan rupiah memicu kenaikan harga sejumlah bahan baku yang masih bergantung pada impor, seperti susu, gandum, kedelai, minyak nabati, hingga pupuk.
Kondisi tersebut turut meningkatkan biaya operasional dapur MBG di berbagai wilayah.
Selain bahan baku, menurut APPMBGI, biaya energi dan logistik juga mengalami kenaikan. Harga bahan bakar dan ongkos distribusi disebut menjadi tantangan besar, terutama untuk daerah dengan akses distribusi terbatas.
Ketua Umum APPMBGI, Bro Rivai, menegaskan langkah efisiensi distribusi perlu dilakukan agar kualitas menu dan kandungan gizi makanan bagi peserta program tetap terjaga.
“Efisiensi hari distribusi justru menjadi langkah preventif agar kualitas program tetap terjaga. Jika tidak dilakukan sekarang, risikonya bukan hanya pembengkakan anggaran, tetapi juga penurunan kualitas gizi makanan bagi anak-anak,” katanya.
Ia menambahkan, kebijakan pembatasan distribusi juga memberi ruang bagi pemerintah untuk memperkuat tata kelola program, termasuk memperbaiki rantai pasok pangan nasional dan memperluas kemitraan dengan sektor lokal.
Sebagai organisasi yang menaungi pengelola dapur MBG di berbagai daerah, APPMBGI menyatakan siap berkolaborasi dengan BGN dalam memperkuat efisiensi dan keberlanjutan program.
Sejumlah langkah yang didorong antara lain peningkatan penggunaan bahan pangan lokal bergizi, digitalisasi sistem pengadaan dan distribusi, penguatan kerja sama dengan petani dan UMKM pangan lokal, serta pengembangan model dapur komunitas yang lebih adaptif.
“Kondisi ekonomi global saat ini harus menjadi momentum memperkuat kemandirian pangan nasional. Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, tetapi juga instrumen strategis pembangunan sumber daya manusia dan penggerak ekonomi lokal,” tegasnya.
APPMBGI optimistis Program Makanan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan optimal sebagai investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, selama dikelola secara efisien, prudent, dan adaptif terhadap dinamika ekonomi global. (*)
Comment