Masya Allah! Ustaz Yahya Waloni Wafat di Mimbar Khatib Jumat, Jenazahnya Tersenyum

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Di tengah gema Takbir Iduladha yang membahana, Jumat 10 Zulhijjah 1446 Hijriah, langit Minasa Upa seakan turut bersedih. Seorang Dai kharismatik, Ustaz H. Yahya Waloni, berpulang ke Rahmatullah, tepat saat sedang menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Darul Falah, Blok M, Minasa Upa, Makassar Sulsel.

Hari itu, beliau hadir seperti biasa: tenang, santun, membawa pesan-pesan langit dalam kalimatnya. Pada khutbah pertama, tak tampak tanda-tanda apa pun.

Namun saat berdiri menyambut khutbah kedua, baru sepatah kata terucap, tubuh beliau tiba-tiba goyah, lalu ambruk di mimbar suci tempat ia mengabdi. Jemaah tersentak.

Beberapa bergegas menolong. Ustaz Yahya segera dilarikan ke RS Bahagia yang tak jauh dari lokasi. Namun takdir telah ditulis.

Allah SWT lebih merindukannya. Ustaz Yahya Waloni wafat dalam keadaan mulia: di Rumah Allah SWT, di Hari yang Agung, di tengah-tengah Umat, dan dalam perjuangan menyuarakan kalimat-Nya. Jenazahnya tersenyum, pertanda husnul khatimah.

Tak semua orang diberi karunia berpulang dalam keadaan seperti itu. Dalam khidmat Khutbah, pada Hari Raya Kurban, saat ia sedang memperjuangkan dakwah yang menjadi jalan hidupnya.

Kabar duka itu segera menyebar. Ratusan ucapan belasungkawa membanjiri linimasa dan grup-grup pesan singkat. Warga, sahabat, dan para muridnya mengenang beliau sebagai sosok yang ikhlas, tegas dalam tauhid, namun lembut dalam mendidik.

Seorang Ustaz yang hidupnya diabdikan untuk membela Kalimat Allah SWT dan membangun akhlak umat.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu…,” begitu doa yang mengalir dari lisan para Sahabat dan Jemaah.

Doa yang kini mengiringi kepergiannya menuju tempat yang dijanjikan.

Ustaz Yahya Waloni meninggal di medan Dakwah—sebuah akhir yang diimpikan oleh banyak pejuang Agama. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amalnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi para Kekasih-Nya.

Pulangnya seorang Dai, bukan akhir dari dakwahnya. Pesan-pesan Almarhum, yang pernah hidup di atas mimbar dan menyentuh hati-hati yang mendengar, akan terus menjadi cahaya bagi Umat yang ditinggalkan. (*)

Comment