MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Wakil Wali Kota (Wawali) Makassar, Aliyah Mustika Ilham, secara resmi menerima kunjungan audiensi dari jajaran pengurus Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (MPM UNM) periode 2025–2026.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Wakil Wali Kota, Rabu (15/4/2026) ini, membahas persiapan ajang prestisius Pekan Parlemen 2026.
Mengusung tema strategis “Equilibrium of Power from the Margins”, Pekan Parlemen dijadwalkan akan digelar pada 19–25 April 2026.
Kegiatan ini diproyeksikan menjadi magnet bagi mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia, untuk berdiskusi mengenai penguatan kapasitas dan ruang dialog kebangsaan.
Ketua Umum MPM UNM, Muh. Ikhwan Risqullah, menjelaskan bahwa Pekan Parlemen bukan sekadar seremoni, melainkan ruang strategis untuk membedah perspektif keseimbangan kekuasaan, terutama dari sudut pandang kelompok marginal.
”Kami berharap kegiatan ini mampu mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam proses demokrasi, sekaligus memperluas wawasan mengenai literasi politik yang substansial,” ujar Ikhwan dalam pemaparannya.

Menanggapi inisiatif tersebut, Wawali Aliyah Mustika Ilham, memberikan apresiasi tinggi.
Menurutnya, Pemerintah Kota Makassar senantiasa mendukung kegiatan yang memicu kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa.
”Pemerintah Kota Makassar menyambut baik agenda ini. Pekan Parlemen adalah langkah konkret dalam memperkuat partisipasi mahasiswa terhadap pembangunan, khususnya dalam aspek demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan,” tegas Aliyah.
Dalam audiensi tersebut, Aliyah didampingi oleh sejumlah pejabat teras, di antaranya Fathur Rahim (Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik), dan Noptiadi (Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar).
Dari pihak mahasiswa, hadir pula Sekretaris Jenderal MPM UNM, A. Muh. Farid Massarasa, yang turut memberikan rincian teknis pelaksanaan kegiatan yang akan melibatkan delegasi lintas daerah tersebut.
Melalui sinergi ini, Pekan Parlemen 2026 diharapkan oleh Wawali Aliyah Mustika Ilham, tidak hanya memperkuat kepemimpinan mahasiswa, tetapi juga menempatkan Kota Makassar sebagai pusat diskursus demokrasi yang inklusif bagi generasi muda di Tingkat Nasional. (*)
Comment