MENITNEWS.COM, MAMUJU — Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) sukses menjaga stabilitas ekonomi daerah dengan mencatatkan angka inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,94 persen pada Maret 2026.
Angka tersebut dipastikan masih berada dalam koridor target nasional, yang ditetapkan Pemerintah Pusat, yakni di kisaran 2,5 \pm 1 persen (1,5% hingga 3,5%).
Tren positif ini menjadi indikator kuat terjaganya daya beli masyarakat di bawah kepemimpinan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 April 2026, inflasi bulanan (month-to-month) Sulbar bahkan tercatat sangat rendah di angka 0,08 persen, menempatkan provinsi ini di posisi ke-31 nasional dalam hal stabilitas harga.
Perencana Ahli Muda Bapperida Sulbar, Musrifa Hamzah, menjelaskan bahwa meski angka tahunan terkendali, Pemerintah Daerah tetap memberikan atensi khusus pada dinamika harga di pekan kedua April.
”Capaian ini merupakan hasil kebijakan pengendalian ekonomi yang diarahkan langsung oleh Bapak Gubernur. Namun, kita tetap perlu waspada terhadap potensi kenaikan harga pangan,” ujar Musrifa, usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kemendagri, awal pekan ini.
Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan adanya kenaikan sebesar 1,44 persen di Sulbar yang dipicu oleh tiga komoditas utama yakni Daging Ayam Ras, Cabai Rawit, dan Bawang Merah.
Tiga Langkah Strategis Pengendalian Harga
Menindaklanjuti arahan Pemerintah Pusat, Pemprov Sulbar kini memperkuat tiga langkah taktis untuk menekan gejolak harga di pasar dan inflasi daerah.
Gerakan Mandiri Pangan: Mendorong masyarakat untuk memproduksi kebutuhan pangan skala rumah tangga guna mengurangi ketergantungan pasokan luar daerah.
Pemetaan Surplus-Defisit: Melakukan pemantauan stok komoditas secara real-time untuk deteksi dini kelangkaan.
Optimasi Distribusi: Melibatkan BUMD dan pihak ketiga guna memastikan kelancaran alur logistik pangan ke seluruh wilayah Sulbar.
Fondasi Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Terpisah, Kepala Bapperida Sulbar, Amujib, menegaskan bahwa terkendalinya inflasi bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi vital untuk mencapai visi jangka panjang daerah.
”Inflasi yang terkendali adalah prasyarat utama untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Target pertumbuhan ekonomi Sulbar sebesar 8 persen pada tahun 2030 hanya bisa dicapai jika stabilitas harga terjaga dan daya beli masyarakat terlindungi,” tegas Amujib.
Dengan capaian Maret ini, Pemprov Sulbar optimistis dapat terus menjaga inflasi daerah dan ritme ekonomi daerah tetap kondusif di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas global maupun nasional. (*)
Comment