MENITNEWS.COM, JAKARTA – Presiden Donald Trump secara mengejutkan memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk melakukan blokade penuh di Selat Hormuz. Langkah ini diambil menyusul kegagalan total perundingan damai di Islamabad, Pakistan, dan menandai eskalasi militer paling dramatis dalam dekade ini terhadap Teheran.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa taktik ini merupakan kelanjutan dari strategi “tekanan maksimum” yang sebelumnya ia klaim berhasil di Venezuela.
“Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memblokir semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Setiap pihak yang menembak kita akan DIHANCURKAN!” tulis Trump pada Minggu (12/04/2026).
Strategi “Gunting” AS: Melemahkan Militer dan Ekonomi
Pemerintahan Trump tampaknya menjalankan rencana matang yang telah disusun oleh para pakar strategi militer. Berikut adalah poin-poin utama strategi blokade tersebut:
1. Pelumpuhan Aset Strategis
Jenderal (Purn) Jack Keane, analis senior yang dikenal dekat dengan Trump, menyatakan bahwa blokade adalah cara paling efektif untuk memutus napas ekonomi Iran. “Setelah kita melemahkan aset militer mereka, pilihannya adalah menduduki pusat ekspor seperti Pulau Kharg atau menghancurkannya sama sekali,” ujarnya.
2. Pengerahan Dua Raksasa Laut
AS telah menyiagakan kekuatan tempur yang masif di wilayah tersebut:
-
USS Gerald Ford: Kapal induk tercanggih di dunia yang sebelumnya memimpin operasi pencegatan kapal tanker di Venezuela.
-
USS Abraham Lincoln: Kelompok tempur yang kini sudah berposisi di Laut Arab.
Analis militer menyebut kehadiran dua kapal induk ini cukup untuk menutup celah di Selat Hormuz secara fisik.
3. Pengendalian Navigasi Maritim
Rebecca Grant dari Lexington Institute menjelaskan bahwa Angkatan Laut AS akan melakukan pengawasan udara dan laut secara intensif. Saat ini, pola lalu lintas maritim sudah mulai kacau; banyak kapal memilih berhenti di lepas pantai UEA karena ketakutan, sementara perusahaan asuransi mulai menarik perlindungan bagi kapal yang nekat melintas.
Risiko Fatal dan Memori “Perang Tanker”
Meskipun AS memiliki keunggulan teknologi, blokade ini dibayangi risiko besar. Sejarah mencatat pada periode 1981-1987 (Perang Tanker), lebih dari 450 kapal diserang dan ratusan pelaut tewas.
Iran diprediksi akan menggunakan taktik asimetris:
-
Kapal Cepat: Penggunaan armada kecil yang sulit dideteksi untuk menyerang kapal perang besar.
-
Perang Elektronik: Gangguan terhadap sistem GPS yang dapat membingungkan navigasi kapal dagang maupun militer.
Dampak Manusia: Angka Korban yang Terus Meningkat
Blokade ini terjadi di tengah konflik regional yang telah memakan ribuan korban jiwa sejak akhir Februari:
| Entitas | Estimasi Korban Jiwa |
| Iran | > 3.300 (Akibat serangan AS & Israel) |
| Lebanon | > 1.830 (Termasuk Hizbullah) |
| Irak | > 117 (Anggota milisi) |
| Israel | > 35 (Warga sipil & tentara) |
Reaksi Internasional: Antara Keamanan dan Hukum Laut
Langkah sepihak AS ini memicu perdebatan hukum internasional. Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menekankan bahwa Selat Hormuz adalah jalur air internasional sesuai konvensi UNCLOS.
“Hak lintas transit bukan hak istimewa yang diberikan oleh negara tertentu; itu adalah hak berdasarkan hukum internasional yang tidak boleh dipungut biaya atau bea masuk,” tegas Balakrishnan, menanggapi rencana Iran yang ingin memungut biaya kripto pada kapal yang lewat.
Di sisi lain, mantan anggota Navy SEAL, Bob Harward, optimis bahwa misi ini “bisa dilakukan” dan merupakan langkah terakhir karena Iran dianggap enggan bernegosiasi secara jujur. Kini, dunia menunggu apakah blokade ini akan membawa Teheran ke meja perundingan atau justru memicu perang terbuka di Teluk Arab. (*)
Comment