Krisis Energi Global 2026: Dunia Masuki Fase Kritis Akibat Ketegangan Timur Tengah

Ilustrasi harga minyak (Sumber: Kompas.com/Foto: SHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE)

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, JAKARTA – Krisis energi global dilaporkan telah memasuki fase paling serius dalam sejarah modern. Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital di dunia, telah memutus rantai pasok minyak dan gas global secara signifikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan energi jangka panjang dan lonjakan harga yang tidak terkendali.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, dalam konferensi di Paris menyatakan bahwa pasar energi saat ini menghadapi tantangan ekonomi luar biasa. Gangguan pada jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut berdampak pada sekitar seperlima pasokan energi dunia, yang berujung pada lonjakan harga minyak mentah Brent hingga melampaui 120 dolar AS per barel.

Jurang Ketimpangan Cadangan Energi

Krisis ini mengungkap realitas pahit mengenai ketimpangan ketahanan energi global. Laporan yang dikutip dari Al Jazeera menyoroti bahwa negara-negara maju yang tergabung dalam OECD dan IEA memiliki “bantalan” energi yang jauh lebih kuat dibandingkan negara berkembang.

Hingga Maret 2026, negara-negara IEA tercatat menguasai cadangan publik sebesar 1,2 miliar barel, ditambah 600 juta barel cadangan industri. Sementara itu, China memperkuat posisinya dengan cadangan darurat mencapai 1,4 miliar barel—jumlah yang melampaui gabungan cadangan Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. Secara kumulatif, hanya sepuluh negara atau blok besar yang menguasai 70 persen stok minyak global, meninggalkan sisa dunia dalam posisi yang sangat rentan.

Negara Berkembang di Ambang Risiko

Bagi negara berkembang di Asia dan Afrika, tingginya harga minyak adalah ancaman ganda. Peneliti dari Sustainable Development Policy Institute, Khalid Waleed, menjelaskan bahwa membangun dan mengelola cadangan minyak strategis adalah investasi yang sangat mahal. Bagi negara-negara yang sedang berjuang dengan beban utang dan subsidi listrik, menyimpan jutaan barel minyak sering kali dianggap sebagai kemewahan yang tak terjangkau.

Dampaknya sudah mulai terlihat nyata di kawasan Asia Pasifik. Asian Development Bank (ADB) terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan menjadi 4,7 persen. Di lapangan, kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan:

  • Pakistan melaporkan hanya memiliki cadangan minyak untuk lima hingga tujuh hari.

  • Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh mencatat cadangan mereka hanya cukup untuk bertahan selama 23 hari hingga satu bulan.

Angka-angka ini jauh di bawah standar minimal IEA yang mensyaratkan stok setara 90 hari impor.

Dampak Ekonomi dan Prediksi ke Depan

Lembaga keuangan global JPMorgan memberikan peringatan keras bahwa gangguan pasokan ini telah menyebabkan penurunan permintaan energi terbesar sejak krisis keuangan 2008. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata telah melonjak ke angka 4,05 dolar AS per galon, yang memicu kenaikan inflasi nasional hingga diprediksi menyentuh 5 persen.

Analis memperingatkan bahwa jika blokade Selat Hormuz berlanjut hingga Juni, harga minyak Brent bisa meroket hingga 150 dolar AS per barel. Kondisi ini diprediksi akan memaksa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sebagai solusi jangka panjang, para ahli menekankan pentingnya diversifikasi energi. Neil Crosby, Kepala Riset Sparta, berpendapat bahwa pertahanan terbaik bagi negara berkembang bukanlah sekadar menimbun minyak, melainkan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Langkah ini dianggap satu-satunya cara permanen untuk memutus ketergantungan ekonomi lokal dari gejolak pasar minyak internasional yang kian tidak terprediksi. (*)

Comment