MENITNEWS.COM, MAROS — Sebuah pemandangan tidak biasa dan menguras air mata, mewarnai prosesi Wisuda Sekolah Lansia As-Sabiqat Kabupaten Maros yang dibina oleh AMTI, resmi diwisuda di Gedung Serba Guna Kabupaten Maros, Sabtu (22/11/2025).
Bupati Maros, Dr. Andi Syafril Chaidir Syam, S.IP, M.H, dan Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Shodiqin, SH., MM, melakukan kegiatan wisuda yang dihadiri 45 Lansia.
Acara ini menjadi momen langka dan bersejarah, khususnya bagi Bupati Maros, Chaidir Syam, karena secara langsung mewisuda Ibundanya sendiri, Hj. Andi Nadjemiah, yang menjadi salah satu peserta wisuda sekolah lansia S-1.

Di tengah riuh rendah perayaan Akademik tersebut, jabatan dan protokoler seolah luruh ketika Bupati Maros, H.A.S. Chaidir Syam, berdiri di hadapan salah satu Wisudawati.
Yah. Wisudawati tersebut bukanlah Mahasiswa biasa bagi Sang Bupati. Ia adalah Hj. Andi Nadjariah, sosok Wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Bakti Anak di Panggung Akademik
Biasanya, kehadiran seorang Kepala Daerah dalam acara wisuda, hanya sebatas memberikan sambutan formal atau ucapan selamat secara umum. Namun, kali ini atmosfer berubah menjadi sangat emosional. Chaidir Syam, dengan mengenakan seragam dinas lengkapnya, turun tangan langsung untuk memindahkan tali toga Ibundanya.
Momen tersebut menjadi simbolisasi yang kuat tentang siklus kehidupan: dahulu sang ibu yang menuntun anaknya belajar berjalan dan mengeyam pendidikan, kini sang anak—yang telah sukses menjadi pemimpin daerah—mendapat kehormatan untuk mengukuhkan keberhasilan pendidikan Ibunya.
Hj. Andi Nadjemiah, membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia. Di usianya yang tak lagi muda, beliau berhasil menyelesaikan studinya, memberikan pesan tersirat yang kuat kepada generasi muda Maros tentang pentingnya pendidikan sepanjang hayat (long life learning).
Ditemui seusai prosesi yang menyentuh hati tersebut, Chaidir Syam tak bisa menyembunyikan rasa bangga sekaligus harunya.
”Jujur, ini adalah momen wisuda yang paling membuat jantung saya berdebar, lebih dari saat saya sendiri yang diwisuda. Biasanya saya berdiri di sini murni sebagai pejabat publik, tetapi hari ini, seragam dinas ini hanyalah pakaian luar,” ujarnya.
”Di dalam hati, saya berdiri sebagai seorang anak yang sangat bangga. Tangan saya sempat gemetar saat memindahkan tali toga beliau. Ini bukan sekadar memindahkan tali dari kiri ke kanan, tapi ini adalah bentuk penghormatan tertinggi saya atas perjuangan beliau yang tak kenal lelah menuntut ilmu, sekaligus pengingat bahwa setinggi apa pun jabatan saya, saya tetaplah putranya yang memohon ridho. Beliau adalah inspirasi sejati saya, bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar,” tutur Chaidir.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi kenangan manis bagi keluarga Bupati Maros, tetapi juga menjadi motivasi bagi masyarakat Kabupaten Maros.
Kegigihan Ibunda Bupati dalam menyelesaikan pendidikan, menjadi teladan nyata bahwa pendidikan adalah hak segala usia dan merupakan kunci untuk terus memberdayakan diri.
Momen wisuda kali ini, akan dikenang bukan hanya sebagai perayaan kelulusan, melainkan sebagai panggung di mana cinta ibu dan bakti anak bertemu dalam satu bingkai kebanggaan.

Wisuda Pertama Sekolah Lansia As-Sabiqat ini mengusung tema “Evaluasi Diri, Bersinergi Kokohkan AMTI dan Semangat Berbagi dalam Bingkai Tali Silaturrahmi”, dirangakaikan dengan Peringatan Milad ke X (Sepuluh) dan Launching Lembaga Wakaf (Nasir).
Wisuda ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk belajar, berkarya, dan berdaya tidak dibatasi oleh usia.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulsel, Shodiqin, mengapresiasi atas partisipasi dan keberhasilan para peserta dalam mengikuti seluruh program pembelajaran, sehingga wisuda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat rasa percaya diri, serta mempererat tali silaturahmi antara peserta, pengelola, dan pihak terkait.
Sekolah Lansia adalah program Lansia Berdaya (SIDAYA), yang merupakan salah satu program Quick Win Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Sekolah Lansia difasilitasi dalam pertemuan yang menghadirkan Guru sebagai Narasumber, dalam pertemuan setiap bulannya.
“Program ini bertujuan untuk menciptakan lansia yang sehat, mandiri, dan bermartabat dengan menekankan tujuh dimensi pendekatan lansia tangguh yaitu, spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan untuk mewujudkan lansia berdaya (sehat, aman dan dapat berpartisipasi),” terang Shodiqin. (*)
Comment