Biaya Kemasan Meroket, Pedagang Kecil di Makassar Keluhkan Modal yang Membengkak

Ilustrasi Plastik (Sumber Kompas/Foto: Universitas Airlangga)

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR – Lonjakan harga plastik yang terjadi sejak pekan lalu mulai berdampak signifikan terhadap para pedagang kaki lima (PKL) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kenaikan harga material pengemas ini memaksa para pelaku usaha mikro merogoh kocek lebih dalam untuk menutupi modal harian yang kian melambung.

Abisam (41), seorang pedagang es cendol yang biasa mangkal di depan sebuah kampus di Makassar, mengaku harus menambah modal dagang cukup besar akibat fenomena ini.

“Dulu Rp 500.000 modal saya, sekarang ini sudah Rp 650.000 sampai Rp 700.000. Itu saja batasnya,” ujar Abisam dikutip dari Kompas.com, Selasa (14/4/2026).

Modal Membengkak, Keuntungan Menipis

Kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh komponen pengemasan yang digunakan dalam usahanya. Berdasarkan penuturan Abisam, berikut adalah rincian kenaikan harga yang terjadi:

  • Gelas Plastik (lengkap dengan penutup): Naik dari Rp 17.000 menjadi Rp 22.000 per pak.

  • Sedotan: Melonjak dari Rp 6.000 menjadi Rp 10.000.

  • Kantong Plastik: Naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 8.000.

Meski modal membengkak, Abisam enggan menaikkan harga jual es cendolnya yang dipatok Rp 5.000 per porsi. Ia khawatir kenaikan harga akan membuat pelanggannya kabur. Selain itu, faktor teknis seperti sulitnya mencari uang kembalian jika harga diubah menjadi angka ganjil turut menjadi pertimbangan.

“Kalau dinaikkan begitu, uang kecil susah. Seumpamanya dinaikkan harga jadi Rp 6.000, kembaliannya susah mencari. Jadi dikasih genap saja (Rp 5.000), tapi keuntungan memang jadi tambah sedikit,” jelasnya.

Dampak Dinamika Global di Tingkat Lokal

Kenaikan harga ini dikonfirmasi oleh Rini, seorang pemilik toko plastik di Makassar. Menurutnya, harga plastik melonjak antara 30 hingga 50 persen dalam beberapa minggu terakhir, terutama untuk jenis plastik kantong bening.

Rini menyebutkan bahwa selain harga yang naik, stok barang dari distributor juga mulai sulit didapatkan. Kondisi ini dipicu oleh dinamika global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga bahan baku plastik secara global.

“Tidak tahu juga karena konflik perang atau kenapa, tapi informasi dari distributor begitu. Kita yang jualan hanya bisa menerima kondisi pasar. Mau orang beli silakan, yang penting kita jelaskan kendala pasokannya dari mana,” tutur Rini.

Saat ini, para pelaku usaha mikro di Makassar hanya bisa beradaptasi dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Mereka berharap harga kebutuhan pendukung usaha ini dapat segera kembali stabil guna menjaga keberlangsungan usaha kecil mereka. (*)

Comment