MENITNEWS.COM, MAKASSAR – Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat resmi menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Riset Akses Keuangan pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil guna mengakselerasi program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) melalui komoditas unggulan kakao di wilayah Sulawesi.
Mengangkat tema “Pacu Akselerasi Akses Keuangan, Ekonomi Daerah Meningkat”, forum ini bertujuan memetakan kebutuhan pembiayaan serta merumuskan solusi konkret bagi para petani kakao di lapangan.
Sinergi Lawan Tantangan Produktivitas

Meskipun Sulawesi merupakan kontributor utama kakao nasional, sektor ini masih dibayangi oleh masalah produktivitas yang rendah dan lambatnya peremajaan tanaman. Arif Machfoed, Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama.
“Kami meyakini kolaborasi antara petani, offtaker, lembaga jasa keuangan, hingga kementerian terkait tidak hanya akan meningkatkan hasil panen, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif,” ujar Arif dalam sambutannya.
Capaian Riil: 4 Wilayah, 223 Petani Terbantu

Program yang telah dirintis sejak tahun 2025 ini menunjukkan progres signifikan. Hingga saat ini, OJK telah membentuk empat ekosistem keuangan strategis di Pulau Sulawesi, yakni:
-
Sulawesi Selatan: Kabupaten Luwu Timur
-
Sulawesi Barat: Kabupaten Polewali Mandar
-
Sulawesi Tengah: Kabupaten Poso
-
Sulawesi Tenggara: Kabupaten Konawe Selatan
Berkat kerja sama dengan sektor perbankan, total kredit senilai Rp26 Miliar telah disalurkan kepada 223 petani. Skema ini membantu petani mendapatkan modal kerja yang lebih terjangkau dan terjamin secara ekosistem.
Mitigasi Risiko Melalui Asuransi Parametrik

Dalam kesempatan tersebut, OJK Institute bersama Universitas Hasanuddin memaparkan hasil riset terbaru mengenai penguatan sektor pertanian. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah penerapan Asuransi Parametrik.
Direktur Riset OJK Institute, Bayu Bandono, menjelaskan bahwa asuransi ini merupakan skema mitigasi risiko bagi petani terhadap perubahan iklim. “Hasil riset ini memberikan gambaran berbasis data untuk mendukung kebijakan yang tepat sasaran, mulai dari distribusi hingga hilirisasi komoditas kakao,” jelas Bayu.
Apresiasi dan Komitmen Berkelanjutan
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, OJK memberikan plakat apresiasi kepada para pemangku kepentingan, termasuk perwakilan offtaker dan pemerintah daerah yang telah berkomitmen dalam ekosistem closed loop (ekosistem tertutup yang terintegrasi).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Poso, Wakil Bupati Konawe Selatan, perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta para akademisi dan pelaku industri jasa keuangan se-Sulawesi.
Diharapkan, dengan penguatan akses keuangan ini, kejayaan kakao Sulawesi dapat kembali meningkat dan memberikan kesejahteraan langsung bagi para petani di pelosok daerah. (*)
Comment