MENITNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) RI, terus mengakselerasi program Agro-Electrifying guna meningkatkan efisiensi budidaya bawang merah nasional.
Melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, transformasi energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke tenaga listrik di lahan pertanian terbukti mampu memangkas biaya produksi secara signifikan.
Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, menegaskan bahwa penggunaan listrik di lahan bukan sekadar inovasi.
Melainkan solusi nyata di tengah tantangan produksi global.
Berdasarkan pantauan di sentra produksi seperti Solok, Enrekang, Nganjuk, hingga Bantul, penghematan biaya energi mencapai angka fantastis.
”Terbukti di sentra-sentra tersebut, petani bisa menghemat biaya energi hingga 70-80% dibandingkan menggunakan BBM. Ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani,” ujar Taufiq, dalam keterangan resminya, Senin (11/5/2026).
Listrik PLN: 10 Kali Lebih Murah Dari BBM
Senada dengan hal tersebut, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh Agung Sunusi, memberikan gambaran konkret saat meninjau kawasan bawang merah di Parangtritis, Bantul, baru-baru ini.
Ia menyebutkan bahwa, pompa listrik PLN jauh lebih efisien dibandingkan mesin pompa konvensional.
”Penggunaan pompa listrik dilaporkan 10 kali lebih hemat dibanding BBM. Selain untuk irigasi, listrik ini digunakan untuk pengolahan lahan, pengendalian hama (lampu light trap), hingga proses pascapanen,” jelas Agung.

Dampak Nyata di Lapangan: Kasus Petani Bantul
Ketua Kelompok Tani Paris Makmur, Kadiso, memaparkan efisiensi tersebut dari sudut pandang pelaku usaha.
Dengan modal awal pemasangan instalasi sekitar Rp2,65 juta per titik, petani merasakan penurunan biaya operasional yang drastis.
Biaya BBM Sebelumnya: Rp900.000, Biaya Listrik Saat Ini: Rp100.000, dan fungsi Utama pompa air, pengisian daya sprayer, dan lampu perangkap hama.
”Petani sangat senang karena biaya produksi langsung terasa berkurang jauh. Istilahnya, benar-benar ‘ngirit’ pokoknya,” ungkap Kadiso.
Bantul Menuju Surplus Produksi
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mencatat perkembangan pesat di wilayahnya.
Saat ini, terdapat sekitar 3.300 titik lahan yang telah teraliri listrik PLN, dimana 1.000 titik di antaranya dikhususkan untuk komoditas bawang merah.
Berkat ketersediaan energi ini, produktivitas bawang merah di Bantul tetap terjaga. Pada tahun lalu, luas tanam mencapai 1.687 hektare dengan total produksi 17.787 ton.
Angka ini memastikan Bantul mengalami surplus produksi dibandingkan kebutuhan lokal yang hanya sebesar 6.300 ton.
Sinergi antara Kementan RI, Pemerintah Daerah, dan PLN diharapkan dapat terus memperluas jangkauan Agro-Electrifying ke seluruh pelosok tanah air demi mewujudkan kemandirian pangan yang efisien dan berkelanjutan. (*)
Comment