Unhas Siapkan SPPG Sebagai Laboratorium MBG Nasional, Dorong Riset dan Inovasi Gizi Anak Bangsa

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan komitmennya dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), melalui pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan.

Tetapi juga menjadi pusat riset, edukasi, dan inovasi untuk meningkatkan kualitas gizi generasi Indonesia.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “SPPG Unhas: Laboratorium MBG untuk Gizi Bangsa” yang digelar di Gedung Graha Pena Makassar, Kamis (4/6/2026).

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas sekaligus Tim Ahli SPPG Tamalanrea 14, Prof dr Veny Hadju, mengatakan keterlibatan Unhas dalam program MBG didasari keyakinan bahwa intervensi gizi merupakan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurutnya, berbagai penelitian internasional membuktikan bahwa program pemberian makanan bergizi di sekolah atau school feeding program mampu meningkatkan status gizi masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

“Investasi di bidang gizi memiliki tingkat pengembalian yang luar biasa. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan return of investment bisa mencapai tujuh hingga 31 kali lipat dibanding investasi di sektor lainnya,” ujar Prof Veny.

Ia menjelaskan, kehadiran SPPG di lingkungan kampus membuka peluang besar bagi Unhas untuk berkontribusi secara langsung dalam pengembangan program MBG berbasis ilmiah.

Dengan dukungan berbagai fakultas dan disiplin ilmu, SPPG diharapkan menjadi pusat pembelajaran, penelitian, sekaligus pengembangan kebijakan gizi nasional.

Selain memastikan pemenuhan kebutuhan energi dan nutrisi peserta didik, program MBG juga dinilai berperan penting dalam membangun budaya konsumsi pangan yang sehat dan beragam sejak usia dini.

Prof Veny menyoroti masih rendahnya keberagaman pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang cenderung bergantung pada satu sumber karbohidrat serta kurang mengonsumsi sayuran dan protein hewani secara seimbang.

“Anak-anak perlu dibiasakan sejak kecil memahami bahwa makanan sehat harus lengkap, cukup, dan beragam. Program MBG menjadi sarana edukasi yang sangat efektif karena diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari mereka,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, SPPG Unhas juga melibatkan pelaku usaha lokal dan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok bahan pangan.

Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk mencegah praktik monopoli sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat sekitar.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof Dr Syahdar Baba, mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan model rantai pasok pangan berbasis riset guna mendukung kebutuhan SPPG secara berkelanjutan.

Salah satu fokus utama yang dikembangkan adalah penyediaan telur berkualitas tinggi melalui inovasi sistem pemeliharaan dan pakan ternak yang diterapkan bersama mitra peternak binaan.

“Kami tidak sekadar menyiapkan telur, tetapi bagaimana menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah berdasarkan hasil riset kampus sehingga kualitas gizinya lebih baik dan tetap ekonomis,” ujarnya.

Tidak hanya pada aspek produksi pangan, Fakultas Peternakan Unhas juga merancang program edukasi bagi siswa penerima manfaat MBG agar memahami proses produksi pangan dari hulu hingga hilir.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya menghargai kerja petani dan peternak, sekaligus mengurangi kebiasaan membuang makanan.

Pada kesempatan yang sama, peserta diskusi publik, Maqbul Halim, menilai keberadaan SPPG di Unhas harus benar-benar dimaksimalkan sebagai laboratorium pengembangan MBG tingkat nasional.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghasilkan inovasi, model tata kelola, hingga rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi rujukan pemerintah dalam mengembangkan program MBG di berbagai daerah.

“Sebagai kampus yang disebut-sebut akan menjadi percontohan nasional, Unhas harus mampu menghadirkan inovasi dan rekomendasi pengelolaan MBG yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Melalui kolaborasi lintas fakultas dan pendekatan berbasis riset, Unhas berharap SPPG dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar pusat distribusi makanan bergizi.

Ke depan, Unhas berharap fasilitas tersebut menjadi pusat lahirnya berbagai inovasi dan rekomendasi kebijakan yang mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis serta meningkatkan kualitas generasi masa depan Indonesia. (*)

Comment